Langsung ke konten utama

Pasar Menanti Data Inflasi Sebagai Petunjuk Jalur Suku Bunga, Emas Stabil


Emas mempertahankan penurunan minggu lalu karena investor menantikan angka-angka penting inflasi AS yang akan dirilis pada hari Selasa, yang akan memberikan petunjuk mengenai jalur ke depan untuk suku bunga.

Indeks harga konsumen tidak termasuk makanan dan bahan bakar, ukuran yang disukai para ekonom sebagai indikator inflasi yang lebih baik, diperkirakan meningkat 0,3% untuk bulan ketiga, yang dapat mendukung sikap hawkish pejabat Federal Reserve. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya berdampak negatif pada emas yang tidak berbunga.

Bahkan ketika sebagian besar pasar masih cenderung lebih dovish terhadap prospek suku bunga, logam mulia akhir-akhir ini berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya keraguan mengenai apakah pengetatan moneter telah berakhir. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan pekan lalu bahwa bank sentral tidak akan ragu untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

Emas batangan melonjak hingga lebih dari $2.000 per ons pasca serangan Hamas terhadap Israel pada bulan lalu. Kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas telah mereda dalam dua minggu terakhir, sehingga mengurangi permintaan terhadap aset-aset safe-haven seperti emas.

Harga emas di pasar spot sedikit berubah di $1,938.89 per ons pada pukul 5:51 pagi di London, setelah turun 2,6% pada minggu lalu. Indeks Bloomberg Dollar Spot stabil.(mrv)

Sumber : Bloomberg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...