Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

USD/CHF Melemah ke Dekat 0,7950, Pasar Menanti Kejelasan Risiko Shutdown Pemerintah AS

  Pasangan mata uang USD/CHF bergerak melemah ke sekitar 0,7960 pada perdagangan sesi Asia, Senin pagi. Tekanan jual terhadap Dolar AS semakin terasa seiring meningkatnya kehati-hatian pasar terkait potensi shutdown pemerintah Amerika Serikat yang dapat dimulai pada 1 Oktober mendatang apabila tidak tercapai kesepakatan anggaran. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin Kongres pada hari Senin untuk membahas pendanaan pemerintah. Kebuntuan politik ini bukan hanya berisiko menimbulkan penghentian layanan publik, tetapi juga bertepatan dengan rencana penerapan tarif baru untuk sektor truk, farmasi, dan produk lainnya . Menurut laporan Reuters, kebuntuan tersebut juga berpotensi menunda publikasi data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan (payrolls) September. Tekanan tambahan pada Dolar AS datang dari meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) . Setelah rilis data inflasi AS bulan Agustus, pasar menilai ada ...

Harga Minyak Terkoreksi dari Puncak Tertinggi 7 Pekan

  Harga minyak melemah dalam perdagangan Asia pada Kamis, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi tujuh pekan. Investor melakukan aksi ambil untung di tengah ketidakpastian mengenai prospek permintaan dan pasokan global. Minyak Brent turun 0,4% menjadi $69,05 per barel , sementara WTI melemah 0,4% ke $64,72 per barel . Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak sempat melonjak 2,5% setelah data menunjukkan penurunan tak terduga pada persediaan minyak AS, disertai kekhawatiran bahwa serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia dapat mengganggu pasokan global. Namun, sejumlah analis menilai kenaikan tajam tersebut lebih dipicu sentimen jangka pendek ketimbang faktor fundamental yang kuat. Menurut Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova, harga minyak mulai menghadapi batas atas akibat melemahnya permintaan musiman serta potensi peningkatan pasokan dari OPEC+ pada kuartal keempat . Kembalinya ekspor minyak dari Kurdistan Irak juga memperkuat narasi kemungki...

Dolar Terus Melemah di Tengah Pernyataan The Fed

Indeks dolar AS tergelincir di bawah level 97,3 pada Selasa, mencatat penurunan dua hari berturut-turut. Pergerakan ini terjadi ketika pelaku pasar mencerna komentar pejabat Federal Reserve yang memberikan sinyal beragam terkait arah kebijakan suku bunga. Beberapa pejabat menekankan perlunya kehati-hatian sebelum melakukan pemangkasan lebih lanjut, dengan alasan inflasi menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Perbedaan Pandangan di Internal The Fed Di sisi lain, Gubernur baru The Fed, Stephen Miran, memperingatkan bahwa bank sentral berisiko salah menilai ketatnya kebijakan saat ini. Menurutnya, tanpa pelonggaran yang lebih agresif, pasar tenaga kerja bisa tertekan dan menghambat pemulihan ekonomi. Kontrasnya pandangan ini semakin memperbesar ketidakpastian pasar menjelang rilis data inflasi terbaru. PCE Price Index Jadi Fokus Pasar Sorotan kini tertuju pada rilis Indeks Harga PCE pada Jumat mendatang, indikator inflasi favorit The Fed yang kerap menjadi acuan utama dalam pengambilan ...

Perak Mendekati Level US$42,40 Didukung Sinyal Pelonggaran The Fed

  Harga perak ( XAG/USD ) melanjutkan kenaikan pada Jumat dan mendekati level US$42,40 per ons dalam sesi perdagangan Eropa. Sentimen pasar didorong oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter setelah Federal Reserve (The Fed) memulai siklus pemangkasan suku bunga di tengah kekhawatiran pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Pada Rabu lalu, The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,00%–4,25% , sekaligus memberi sinyal akan ada dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun , sebagaimana tercermin dalam dot plot. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis memberikan dukungan positif bagi aset tanpa imbal hasil seperti perak. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa permintaan tenaga kerja di AS terus melemah dan keseimbangan risiko kini telah bergeser, sehingga penyesuaian suku bunga diperlukan. Ia juga menyatakan bahwa pasar tenaga kerja tidak lagi bisa disebut “sangat solid,” memperkuat alasan perlunya jalur pelonggaran yang...

Saham Asia Bergerak Lesu Jelang Keputusan The Fed

  Pasar saham Asia diperkirakan akan memulai perdagangan dengan pergerakan terbatas setelah sesi Wall Street yang kurang bergairah. Investor memilih bersikap hati-hati menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu, yang menjadi fokus utama arah pasar global. Kontrak berjangka indeks ekuitas mengindikasikan adanya pelemahan tipis di Sydney dan Tokyo , sementara Hong Kong diperkirakan akan dibuka menguat. Hal ini mengikuti pergerakan di AS, di mana S&P 500 melemah 0,1% dan Nasdaq 100 mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Di sisi komoditas, emas sempat menembus $3.700 per ons , didorong oleh pelemahan dolar AS yang jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepuluh minggu. Fokus tambahan di Asia tertuju pada lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun . Ketidakpastian politik serta risiko fiskal yang masih membayangi terus menekan obligasi jangka panjang, sehingga hasil lelang ini dipandang sebagai barometer penting sentimen investor terhadap stabilita...

Dolar Melemah Menjelang Pekan Penentu Bank Sentral, Fokus pada The Fed

Dolar Amerika Serikat melemah pada Senin di awal pekan yang penuh keputusan penting dari bank-bank sentral global, dengan sorotan utama tertuju pada Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, euro nyaris tak terpengaruh meski Fitch memangkas peringkat kredit Prancis ke level terendah sepanjang sejarah. Perdagangan di kawasan Asia relatif sepi karena pasar Jepang libur, membuat pergerakan mata uang cenderung terbatas. Euro tercatat melemah tipis 0,04% ke posisi $1,1729. Penurunan ini muncul setelah pengumuman Fitch pada Jumat lalu yang menurunkan peringkat kredit negara terbesar kedua di zona euro itu dari AA- di tengah krisis politik dan lonjakan utang. Namun, investor sebagian besar tampak mengabaikan dampak downgrade tersebut. Pekan ini, perhatian pasar global akan tertuju pada serangkaian keputusan suku bunga dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, hingga Norwegia. The Fed menjadi pusat perhatian karena diprediksi akan memangkas suku bunga pada Rabu, sebuah langkah yang men...

Harga Minyak Melemah Akibat Oversupply dan Permintaan AS yang Lesu

  Harga minyak dunia pada Kamis pagi bergerak stabil dengan kecenderungan melemah, dipengaruhi oleh kombinasi kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan di Amerika Serikat dan meningkatnya risiko kelebihan pasokan global. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam. Pergerakan Harga Minyak Global Brent crude futures tercatat turun 13 sen atau 0,2% menjadi USD 67,36 per barel pada pukul 07.29 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) crude futures AS melemah 17 sen atau 0,3% ke posisi USD 63,50 per barel . Angka ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya harga sempat naik lebih dari USD 1 per kontrak, dipicu oleh serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar dan penguatan pertahanan udara Polandia serta NATO untuk menanggapi dugaan drone Rusia yang memasuki wilayah udara Polandia saat menyerang Ukraina barat. Faktor Permintaan: Ekonomi AS yang Melemah Data terbaru dari Energy Information ...

Perak Sedikit Melemah, Masih Bertahan di Zona Tinggi

Pergerakan harga perak (XAG/USD) pada hari ini diperdagangkan di kisaran $40,855 , melemah sekitar 0,36% . Koreksi tipis ini terjadi setelah reli kuat pada pekan sebelumnya, sehingga pasar cenderung melakukan konsolidasi sambil menantikan katalis baru. Selama harga tetap bertahan di area $40 , sentimen jangka pendek masih dianggap konstruktif. Dari sisi sentimen, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap menjadi penopang utama dalam jangka menengah. Namun, penguatan sementara dolar AS serta aksi ambil untung menekan pergerakan intraday. Permintaan industri, khususnya dari sektor panel surya dan kendaraan listrik (EV) , ikut membatasi penurunan. Sementara itu, arus safe-haven yang mengikuti emas dan imbal hasil obligasi AS juga memberi peran dalam menjaga kestabilan harga. Secara teknikal, level resistance terdekat terlihat pada rentang $41,20 – $41,50 . Jika mampu ditembus dengan jelas, peluang terbuka menuju uji area $42,00 . Sebaliknya, support awal berada di $40,50 dan ke...

Poundsterling dan Yen Tertekan Akibat Kekhawatiran Fiskal serta Gejolak Politik

Poundsterling Inggris dan yen Jepang mengalami tekanan pada Rabu, setelah aksi jual besar-besaran dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terkait kondisi keuangan pemerintah global dan ketidakpastian politik di Jepang. Pergerakan ini menyoroti rapuhnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas fiskal di sejumlah negara besar. Pada sesi sebelumnya, para pelaku pasar ramai-ramai melepas obligasi pemerintah jangka panjang di Eropa dan Amerika Serikat, seiring fokus kembali pada meningkatnya level utang di berbagai ekonomi utama. Kekhawatiran ini membangkitkan kembali rasa waswas bahwa pemerintah di seluruh dunia mulai kehilangan kendali atas defisit fiskal mereka. Dampak paling nyata terlihat pada pasar obligasi pemerintah Inggris (gilt), di mana biaya pinjaman 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 1998. Kondisi ini membuat poundsterling semakin rentan, jatuh lebih dari 1% pada Selasa dan terakhir diperdagangkan melemah 0,12% di level USD 1,3378 . Ray Attrill, Head of FX Resear...

USD/JPY Menguat di Atas 147,00 Meski Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Meningkat

  Pasangan mata uang USD/JPY diperdagangkan lebih tinggi di sekitar level 147,20 pada sesi awal Asia, Senin pagi. Yen Jepang (JPY) melemah terhadap dolar AS (USD) seiring meredanya tekanan inflasi di Jepang, yang membuat pasar mengurangi spekulasi adanya kenaikan suku bunga tambahan dari Bank of Japan (BoJ) tahun ini. Para pelaku pasar kini menantikan rilis data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat pada Selasa serta laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang sangat dinanti pada Jumat. Inflasi Jepang Melambat, Tekan Prospek Kenaikan Suku Bunga BoJ Data inflasi Tokyo CPI terbaru menunjukkan pertumbuhan harga yang lebih moderat pada Agustus. CPI utama naik 2,5% secara tahunan (YoY), lebih rendah dibanding kenaikan 2,9% pada Juli. Sementara CPI Tokyo tanpa makanan segar juga mencatat kenaikan 2,5%, sesuai ekspektasi, namun tetap melambat dari 2,9% sebelumnya. Pendinginan inflasi ini memperlemah keyakinan pasar bahwa BoJ akan melakukan kenaikan suku bunga tambahan, sehingga...