Langsung ke konten utama

Harga Emas Turun Tipis Akibat Pandangan Jerome Powell tentang Suku Bunga


Harga emas tengah menjadi sorotan karena tipisnya penurunan pada Kamis dini hari, 18 April 2024. Penyebabnya adalah pandangan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, tentang suku bunga AS. Apa yang sebenarnya terjadi di pasar emas? Simak pembahasannya di bawah ini.

Harga emas spot mengalami penurunan sebesar 0,2% menjadi US$2,376.39 per ons pada hari Kamis tersebut. Meskipun penurunan ini tipis, namun memiliki dampak signifikan terhadap pasar. Tren penurunan ini dipicu oleh pandangan Jerome Powell yang menahan harapan penurunan suku bunga AS.

Investor emas tengah mempertimbangkan pandangan Jerome Powell secara serius. Hal ini karena pernyataannya menunjukkan kebijakan moneter AS akan tetap bersifat restriktif dalam waktu yang lebih lama. Dengan demikian, peluang penurunan suku bunga AS menjadi semakin kecil.

Bagi investor, penting untuk memperhatikan pernyataan pejabat bank sentral seperti Jerome Powell. Hal ini dapat menjadi sinyal bagi perubahan tren pasar, terutama dalam hal harga emas. Berdasarkan pandangan Jerome Powell, investor dapat membuat keputusan yang lebih tepat terkait investasi emas mereka.

Harga emas turun tipis pada Kamis dini hari, 18 April 2024, karena pandangan Jerome Powell yang menahan harapan penurunan suku bunga AS. Investor harus memperhatikan perkembangan selanjutnya di pasar emas dan respons terhadap pernyataan dari pejabat bank sentral untuk membuat keputusan investasi yang cerdas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...