Langsung ke konten utama

Saham Jepang Mengalami Penurunan Terbesar dalam 2- Minggu



Saham-saham Jepang melemah karena saham-saham teknologi merosot setelah Wall Street berjuang untuk menambah keuntungan dan perusahaan-perusahaan domestik utama termasuk Toyota Motor melaporkan pendapatannya.

Topix turun 1,4% menjadi 2,706.43 pada penutupan pasar di Tokyo.

Nikkei 225 turun 1,6% menjadi 38.202,37.

Sony berkontribusi paling besar terhadap penurunan Topix, turun 5%. Dari 2.144 saham dalam indeks tersebut, 621 saham menguat dan 1.432 saham melemah, sedangkan 91 saham stagnan.

Toyota turun setelah menunjukkan prospek laba yang lemah. Skandal keselamatan memaksa produsen mobil tersebut memangkas produksi, sehingga menutupi kuatnya penjualan kendaraan hibridanya. Saham Nintendo jatuh setelah perusahaan tersebut memperingatkan penurunan laba yang tajam dan mengisyaratkan Switch generasi berikutnya tidak akan hadir hingga tahun 2025.

"Saham Jepang turun sebagai reaksi terhadap reli hari sebelumnya, dan akan sulit untuk mengetahui arah pasar hingga CPI AS minggu depan," kata Mamoru Shimode, kepala strategi di Resona Asset Management. Ekspektasi penurunan suku bunga AS tahun ini turun tajam setelah rilis CPI bulan April, jadi akan menarik untuk melihat apakah data mendatang akan mengubah narasinya, katanya.

Indeks Semikonduktor Philadelphia turun lebih dari 0,7%, menghentikan kenaikan tiga hari sementara Nasdaq 100 yang padat teknologi sedikit berubah.(mrv)

Sumber : Bloomberg 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...