Langsung ke konten utama

Perak Turun ke Sekitar $29,5 Per Ons: Penguatan Dolar dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed


Perak mengalami penurunan ke sekitar $29,5 per ons pada akhir Agustus, mencatat penurunan dari level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Penurunan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat yang dinantikan banyak pihak. Data ini diprediksi akan memberikan petunjuk mengenai prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Pengaruh Penguatan Dolar AS

Dolar AS yang menguat memberikan tekanan pada harga perak, mengingat logam mulia ini diperdagangkan dalam mata uang dolar. Penguatan dolar membuat perak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan menurun dan harga ikut terkoreksi. Hal ini terjadi menjelang publikasi data inflasi utama di AS, yang diperkirakan akan memengaruhi keputusan The Fed terkait kebijakan suku bunga.

Prospek Kebijakan Federal Reserve

The Fed secara luas diperkirakan akan mulai melonggarkan kebijakan moneter pada bulan September. Namun, masih ada perdebatan di pasar mengenai seberapa besar penurunan suku bunga yang akan dilakukan. Sebagian pihak memprediksi pemangkasan sebesar 25 basis poin, sementara yang lain memperkirakan penurunan lebih agresif sebesar 50 basis poin.

Pejabat The Fed telah mengeluarkan pernyataan dovish pekan ini, menunjukkan sikap berhati-hati terhadap kondisi ekonomi saat ini. Mereka memperingatkan risiko yang semakin besar terhadap pasar tenaga kerja, namun tetap optimis bahwa inflasi akan kembali ke target jangka panjang. Sikap ini mencerminkan ketidakpastian yang tinggi mengenai arah kebijakan moneter AS dalam waktu dekat.

Dampak Global: Permintaan Logam dari Tiongkok

Di sisi lain, perusahaan tambang terbesar Australia, BHP Group, memperingatkan adanya penurunan permintaan logam dari Tiongkok tahun ini. Tiongkok, sebagai konsumen logam terbesar dunia, menunjukkan pemulihan ekonomi yang tidak merata setelah mengalami pelambatan. Hal ini menjadi faktor tambahan yang membebani harga logam mulia seperti perak di pasar global.

Penurunan permintaan dari Tiongkok dapat semakin menekan harga logam, mengingat pentingnya negara tersebut dalam menentukan arah pasar komoditas global. Ketidakpastian yang terjadi di pasar global, baik dari sisi kebijakan moneter AS maupun permintaan dari Tiongkok, menciptakan lingkungan yang penuh tantangan bagi investor di sektor logam mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...