Langsung ke konten utama

Pergerakan Mata Uang Asia Menguat, Dolar AS Stabil di Level Terendah 7 Bulan


Sebagian besar mata uang Asia mengalami penguatan pada Selasa, sementara dolar AS stabil di level terendah lebih dari tujuh bulan di tengah keyakinan yang meningkat bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada bulan September.

Penurunan Dolar AS dan Prospek Pemotongan Suku Bunga oleh The Fed

Kelemahan dolar AS terjadi hanya beberapa hari sebelum pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, di Simposium Jackson Hole pada hari Jumat, di mana dia diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk tentang pemotongan suku bunga.

Dolar yang lebih lemah membantu mendorong reli kuat pada yen Jepang pada hari Senin, sementara yuan China sedikit melemah setelah Bank Rakyat China (PBOC) mempertahankan suku bunga pinjaman primernya seperti yang diharapkan.

Dolar Stabil di Level Terendah 7 Bulan, Pidato Powell Ditunggu

Indeks dolar dan kontrak berjangka indeks dolar stabil dalam perdagangan Asia, setelah terjun ke level terendah sejak awal Januari pada hari Senin. Penurunan dolar AS seiring dengan imbal hasil Treasury AS di tengah optimisme yang meningkat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September.

Pidato Powell pada hari Jumat diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai hal ini, meskipun para analis tidak mengharapkan Ketua The Fed untuk secara definitif menyatakan kapan dan seberapa besar pemotongan suku bunga akan dilakukan.

Menurut CME Fedwatch, para pedagang semakin memperkirakan kemungkinan pemotongan 25 basis poin pada bulan September. Suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan arus keluar modal dari dolar, dan ini membawa potensi penguatan di pasar Asia.

Yen Jepang Sedikit Melemah Setelah Rebound Tajam

Yen Jepang melemah sedikit pada hari Selasa setelah mencatat pemulihan kuat pada sesi sebelumnya. Pasangan USDJPY naik 0,3% menjadi 147,01 yen, setelah sebelumnya sempat turun hingga 145 yen.

Kekuatan yen terutama didorong oleh dolar yang lebih lemah, dan data ekonomi dari Jepang yang menunjukkan bahwa Bank of Japan memiliki ruang lebih untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

Yuan China Melemah Setelah PBOC Menahan Suku Bunga Pinjaman

Pasangan USDCNY dari yuan China naik 0,1%, dengan dukungan terbatas setelah Bank Rakyat China (PBOC) mempertahankan suku bunga pinjaman primernya, sesuai ekspektasi.

Penahanan suku bunga pada bulan Agustus ini terjadi setelah PBOC secara tak terduga memangkas LPR pada bulan Juli, sebagai langkah untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi.

PBOC diperkirakan akan terus memangkas suku bunga lebih lanjut tahun ini, di tengah kekhawatiran yang meningkat akan perlambatan ekonomi di China. Tren ini juga diperkirakan akan terus memberikan tekanan pada yuan.

Mata Uang Asia Lainnya Bergerak Dalam Rentang Stabil ke Rendah

Mata uang Asia lainnya bergerak dalam rentang yang cenderung datar hingga rendah pada hari Selasa. Pasangan AUDUSD dari dolar Australia turun 0,2% meskipun risalah pertemuan Reserve Bank of Australia bulan Agustus menunjukkan bahwa bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga, dan kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tetap lebih lama.

Pasangan USDSGD dari dolar Singapura naik 0,2%, sementara pasangan USDKRW dari won Korea Selatan naik 0,1%.

Pasangan USDINR dari rupee India stabil di bawah level tertinggi sepanjang masa di tengah tanda-tanda intervensi pasar yang berkelanjutan oleh Reserve Bank of India.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...