Langsung ke konten utama

GBP/USD Tertekan di Bawah 1.3100 di Tengah Penguatan Dolar AS dan Kekhawatiran Ekonomi


Pasangan mata uang GBP/USD memperpanjang momentum penurunannya di bawah level psikologis 1.3100 dalam perdagangan Eropa pada hari Senin. Penguatan permintaan terhadap Dolar AS (USD), di tengah kehati-hatian pasar terkait kekhawatiran perlambatan ekonomi AS, menekan pasangan ini, terutama menjelang rilis data inflasi utama minggu ini.

GBP/USD Menembus Batas Teknis Penting

Pada grafik 4 jam, GBP/USD menutup candle di bawah Simple Moving Average (SMA) 100 periode untuk pertama kalinya sejak pertengahan Agustus. Hal ini menandakan pergeseran teknis ke arah bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) pada grafik yang sama berada mendekati level 30, yang menunjukkan pasangan ini hampir memasuki wilayah oversold.

Level Support dan Resistance yang Diperhatikan

  • 1.3100 (SMA 100 periode): Berfungsi sebagai resistance langsung. Jika level ini tetap tidak tertembus, penjual dapat terus mengontrol pergerakan GBP/USD.
  • 1.3040: Retracement Fibonacci 38,2% dari tren naik terbaru, menjadi support penting berikutnya.
  • 1.3000: Level psikologis yang juga merupakan level statis yang berpotensi menarik minat beli.
  • 1.2960-1.2970: Area ini mencakup Retracement Fibonacci 50% dan SMA 200 periode, yang bisa menjadi support yang kuat dalam kasus penurunan lebih lanjut.

Jika GBP/USD berhasil menembus level 1.3100 dan mengubahnya menjadi support, pergerakan selanjutnya mungkin menghadapi resistance di level berikut:

  • 1.3130: Ditetapkan oleh Retracement Fibonacci 23,6%.
  • 1.3150: Terletak di dekat SMA 50 periode.
  • 1.3200: Level psikologis yang juga merupakan level statis penting.

Sentimen Bearish Meningkat di Akhir Pekan

Pada sesi Amerika hari Jumat, pasangan GBP/USD mengalami tekanan bearish yang signifikan. Hal ini menghapus semua keuntungan yang dicatat sepanjang minggu dan membuat pasangan ini berakhir flat. Pada awal pekan baru, pasangan ini terus mengalami penurunan dan terakhir terlihat diperdagangkan di level terendah sejak 22 Agustus, di bawah 1.3100.

Meskipun data pasar tenaga kerja AS yang lemah, Dolar AS tetap mendapatkan keuntungan karena adanya peningkatan permintaan aset safe haven menjelang akhir pekan, yang memaksa GBP/USD bergerak lebih rendah.

Data Ekonomi AS dan Pengaruhnya pada Pasar

Pada hari Jumat, Bureau of Statistics AS mengumumkan bahwa Nonfarm Payrolls meningkat sebesar 142.000 pada bulan Agustus, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 160.000. Selain itu, tingkat pengangguran turun sesuai perkiraan ke 4,2%, sementara inflasi upah tahunan, yang diukur dengan perubahan Rata-rata Penghasilan Per Jam, naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,6%.

Data ini awalnya menekan dolar AS, tetapi perubahan sentimen risiko yang terlihat pada penurunan tajam indeks saham utama di AS menjelang akhir pekan, justru memperkuat dolar AS lebih lanjut.

Prospek Pasar ke Depan

Pada sesi Eropa hari Senin, Indeks FTSE 100 Inggris naik lebih dari 0,5% dan indeks futures saham AS juga mencatat kenaikan antara 0,4% hingga 0,75%. Namun, tanpa adanya rilis data makroekonomi besar, Dolar AS bisa menghadapi kesulitan mempertahankan kekuatannya jika aliran risiko mendominasi pergerakan di pasar keuangan pada paruh kedua hari ini.

Data Ekonomi yang Ditunggu

Besok, Office for National Statistics Inggris akan merilis data ketenagakerjaan yang dapat memberikan pandangan lebih lanjut tentang kondisi ekonomi Inggris. Sedangkan pada hari Rabu, data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Agustus akan menjadi fokus utama para pelaku pasar. Data ini diperkirakan akan mempengaruhi sentimen risiko dan potensi pergerakan Dolar AS di sisa pekan.

Kesimpulan

Pasangan GBP/USD saat ini menghadapi tekanan dari penguatan Dolar AS dan ketidakpastian pasar menjelang rilis data inflasi AS. Pergerakan teknis yang bearish, dikombinasikan dengan ketidakpastian makroekonomi, membuat pasangan ini berisiko melanjutkan penurunan lebih lanjut, kecuali ada perubahan mendasar dalam sentimen pasar atau kejutan positif dari data ekonomi yang akan datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...