Pada perdagangan hari Kamis, sebagian besar mata uang Asia bergerak dalam rentang flat hingga melemah. Hal ini terjadi karena dolar AS mengalami penguatan tajam setelah pemangkasan suku bunga yang signifikan oleh Federal Reserve (The Fed), meskipun sinyal dari The Fed mengenai suku bunga di masa depan cenderung kurang dovish.
Yen Jepang Melemah Terhadap Penguatan Dolar
Yen Jepang Tertekan
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, turun 0,6% terhadap dolar AS, dengan pasangan USD/JPY naik ke level 143,12 yen. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar serta ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) tidak akan mengubah suku bunga dalam pertemuan mereka akhir pekan ini.
Proyeksi BOJ Tanpa Perubahan Suku Bunga
Para trader memperkirakan bahwa BOJ akan mempertahankan suku bunga tetap, meskipun ada kemungkinan sinyal mengenai kenaikan suku bunga di masa depan jika inflasi terus meningkat. Data inflasi konsumen Jepang yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Jumat juga menjadi fokus utama.
Dolar AS Menguat Setelah Pemangkasan Suku Bunga 50 Basis Poin
Penguatan Indeks Dolar
Indeks dolar AS dan futures dolar masing-masing naik sekitar 0,4% dalam perdagangan Asia, memperpanjang penguatan dari perdagangan semalam. Penguatan ini terjadi meskipun The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, yang merupakan batas atas ekspektasi pasar, membawa suku bunga ke kisaran 4,75%-5%.
Sinyal Kebijakan Suku Bunga dari The Fed
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan bahwa risiko antara inflasi yang lebih tinggi dan pelemahan pasar tenaga kerja kini seimbang. Powell juga mengindikasikan bahwa bank sentral kemungkinan akan memangkas suku bunga lebih lanjut di masa depan, didorong oleh keyakinan bahwa inflasi akan terus turun. Namun, Powell menegaskan bahwa The Fed tidak akan kembali ke kebijakan suku bunga ultra-rendah seperti pada masa pandemi. Tingkat suku bunga netral yang diproyeksikan oleh The Fed sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan masa lalu.
Harapan Pasar Terhadap Pemangkasan Suku Bunga Lebih Lanjut
Meskipun Powell menyatakan sikap hati-hati, para trader masih memperkirakan pemangkasan suku bunga lebih lanjut hingga 125 basis poin pada akhir 2024. Namun, pernyataan Powell memunculkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi dari perkiraan awal dalam jangka menengah hingga panjang, yang memberikan tekanan pada mata uang Asia.
Kinerja Mata Uang Asia Lainnya
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Sebagian besar mata uang Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Dolar Australia (AUD/USD) naik 0,4%, didukung oleh data pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan pada bulan Agustus. Kekuatan pasar tenaga kerja ini memberikan ruang bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama, terutama di tengah tanda-tanda inflasi yang persisten.
Yuan China Bergerak Stagnan
Yuan China (USD/CNY) sempat mencatat kenaikan, tetapi akhirnya bergerak datar menjelang keputusan terkait Loan Prime Rate (LPR) oleh People's Bank of China pada hari Jumat. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan LPR tidak berubah.
Won Korea Selatan Menguat, Rupee India Stabil
Won Korea Selatan (USD/KRW) melonjak 1% setelah perdagangan lokal dibuka kembali setelah tiga hari libur. Neraca perdagangan negara tersebut menyusut sedikit pada bulan Agustus. Sementara itu, rupee India (USD/INR) bergerak stabil, tetapi masih menjauh dari level kritis 84 rupee per dolar AS.
Dolar Singapura Tidak Banyak Berubah
Dolar Singapura (USD/SGD) juga menunjukkan pergerakan datar, tanpa banyak perubahan berarti dalam perdagangan hari itu.
Kesimpulan
Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Tertekan
Penguatan dolar AS setelah pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin memicu tekanan pada sebagian besar mata uang Asia. Meski The Fed diperkirakan akan melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga, pernyataan Jerome Powell yang kurang dovish menyebabkan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka panjang. Hal ini mempengaruhi pergerakan yen Jepang yang melemah, sementara mata uang lain seperti dolar Australia dan won Korea Selatan menunjukkan penguatan terbatas.

Komentar
Posting Komentar