
Mata uang Asia menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat, sementara dolar AS melemah setelah pasar bertaruh bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memulai siklus pelonggaran moneter pekan depan. Fokus utama pasar adalah pada skala potensi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika tersebut.
Yen Jepang Tunjukkan Kinerja Terbaik di Asia
Yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan kinerja terbaik, mendekati level terkuat sejak awal Januari. Hal ini didorong oleh ekspektasi yang terus bertahan bahwa Bank of Japan (BOJ) akan mempertahankan kebijakan hawkish, dengan potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Dolar AS Menuju Kerugian Mingguan Kedua
Indeks dolar dan futures dolar turun sebesar 0,3% dalam perdagangan Asia, memperpanjang penurunan dari sesi sebelumnya. Dolar AS berada di jalur untuk mencatat kerugian mingguan ringan—minggu kedua berturut-turut di zona merah. Ini terjadi karena para pedagang terus memprediksi pemangkasan suku bunga meskipun data inflasi AS yang dirilis pekan ini cukup kuat.
Data inflasi awalnya membuat pasar memperkirakan pemangkasan 25 basis poin, namun data pasar tenaga kerja yang lemah kembali membuka peluang pemangkasan lebih besar sebesar 50 basis poin. Berdasarkan alat CME Fedwatch, pasar saat ini memperkirakan 56% peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps, dan 44% peluang untuk pemangkasan 50 bps pada pertemuan The Fed pekan depan.
Siklus Pelonggaran Moneter The Fed yang Dinantikan
The Fed diperkirakan secara luas akan memulai siklus pelonggaran moneter pekan depan, setelah beberapa pejabat Fed memberikan sinyal dovish dalam beberapa minggu terakhir. Analis memprediksi setidaknya akan ada pemangkasan 100 bps pada tahun ini, dengan dua pertemuan Fed tersisa setelah September.
Penurunan suku bunga AS memberikan angin segar bagi mata uang Asia yang didorong oleh risiko, karena hal ini membuka lebih banyak likuiditas untuk berinvestasi di pasar luar negeri.
Yen Jepang Dekati Puncak 8 Bulan, Fokus pada Kebijakan BOJ
Selain penguatan di seluruh kawasan Asia, yen Jepang berhasil menjadi sorotan. Pasangan mata uang USDJPY turun 0,7%, mencapai level terendah sejak awal Januari. Sejumlah komentar hawkish dari pejabat BOJ meningkatkan nilai yen sepanjang pekan ini, terutama setelah seruan untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut dari bank sentral.
Meskipun data inflasi produsen yang lemah sedikit meredam sentimen ini, survei Reuters pada hari Jumat menunjukkan bahwa analis masih memposisikan diri untuk angka inflasi konsumen yang kuat pekan depan. BOJ juga akan bertemu pekan depan, meskipun para analis masih belum yakin apakah bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga lagi setelah kenaikan 15 bps pada akhir Juli.
Penguatan Mata Uang Asia di Tengah Prospek Suku Bunga AS yang Lebih Rendah
Mata uang Asia lainnya turut menguat berkat prospek suku bunga AS yang lebih rendah serta melemahnya dolar. Pasangan mata uang AUDUSD menguat 0,1%, sementara pasangan USDCNY dari yuan China turun 0,2%.
Mata uang won Korea Selatan menguat, dengan pasangan USDKRW turun 0,5%, sementara dolar Singapura juga menguat dengan pasangan USDSGD turun 0,2%.
Namun, rupee India tertinggal dari rekan-rekannya, dengan pasangan USDINR stabil di bawah level 84 rupee.
Kesimpulan
Penguatan mata uang Asia pada hari Jumat mencerminkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan segera memulai pemangkasan suku bunga. Selain itu, komentar hawkish dari Bank of Japan semakin memperkuat nilai yen, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Dengan pasar terus memantau pergerakan suku bunga dan inflasi, dinamika mata uang di kawasan Asia akan sangat dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter dari bank sentral global dalam beberapa pekan mendatang.
Komentar
Posting Komentar