Langsung ke konten utama

Harga Minyak Naik Setelah Penurunan Stok AS dan Spekulasi Penundaan Produksi OPEC+

 

Kenaikan Harga Minyak di Tengah Optimisme Permintaan Bahan Bakar AS

Harga minyak naik pada hari Kamis, melanjutkan kenaikan hari sebelumnya. Optimisme terhadap permintaan bahan bakar AS meningkat setelah laporan penurunan tak terduga pada stok minyak mentah dan bensin, sementara laporan bahwa OPEC+ mungkin menunda peningkatan produksi turut mendukung pergerakan ini.

Harga minyak mentah Brent naik 11 sen, atau 0,15%, menjadi $72,66 per barel pada pukul 08:05 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 13 sen, atau 0,19%, menjadi $68,74 per barel. Kedua kontrak ini naik lebih dari 2% pada hari Rabu setelah sebelumnya turun lebih dari 6% awal minggu ini akibat berkurangnya risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Penurunan Tak Terduga pada Stok Bensin dan Minyak Mentah AS

Laporan dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa stok bensin AS turun secara tak terduga pada minggu yang berakhir 25 Oktober, mencapai level terendah dalam dua tahun terakhir seiring peningkatan permintaan. Stok minyak mentah juga mengalami penurunan mengejutkan akibat turunnya impor. Sembilan analis yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan adanya peningkatan pada stok bensin dan minyak mentah.

Menurut Toshitaka Tazawa, seorang analis di Fujitomi Securities, “Penurunan tak terduga pada stok bensin AS memberikan peluang pembelian karena permintaan tampak lebih kuat dari yang diantisipasi.” Ia menambahkan bahwa, “Ekspektasi kemungkinan penundaan peningkatan produksi OPEC+ juga menjadi faktor pendukung. Jika penundaan terjadi, WTI bisa kembali ke level $70.”

Spekulasi Penundaan Produksi OPEC+ untuk Menyeimbangkan Pasar

OPEC+, yang merupakan gabungan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, dilaporkan bisa menunda peningkatan produksi yang direncanakan pada Desember sebesar 180.000 barel per hari (bpd) karena kekhawatiran akan lemahnya permintaan minyak dan pasokan yang meningkat. Sebelumnya, rencana peningkatan produksi sudah tertunda dari Oktober akibat penurunan harga minyak. Keputusan penundaan ini bisa diputuskan secepatnya pada minggu depan, menurut dua sumber dari OPEC+.

Kelompok ini dijadwalkan untuk bertemu pada 1 Desember guna memutuskan langkah kebijakan berikutnya. Spekulasi penundaan ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk data positif dari Tiongkok, importir minyak terbesar di dunia, yang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mereka tumbuh untuk pertama kalinya dalam enam bulan.

Perkembangan Global Lainnya yang Berpotensi Mempengaruhi Harga Minyak

Pasar juga menantikan hasil pemilihan presiden AS pada 5 November serta rincian lebih lanjut mengenai stimulus ekonomi Tiongkok. Reuters melaporkan bahwa Tiongkok kemungkinan akan menyetujui penerbitan utang lebih dari 10 triliun yuan ($1,4 triliun) selama beberapa tahun ke depan, yang akan diputuskan dalam pertemuan parlemen mereka pada 4-8 November.

Di Timur Tengah, Perdana Menteri Lebanon menyatakan harapannya bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Israel akan diumumkan dalam beberapa hari, sementara terdapat dorongan diplomatik serupa untuk mengakhiri permusuhan di Gaza. Namun, dampak langsung dari ketegangan ini terhadap harga minyak diperkirakan akan terbatas.

Menurut Tony Sycamore, analis pasar dari IG, “Sebagian besar risiko geopolitik di Timur Tengah telah dihilangkan dari harga minyak setelah respons Israel terhadap Iran akhir pekan lalu.” Iran menyatakan bahwa serangan Israel pada hari Sabtu hanya menyebabkan kerusakan terbatas sebagai pembalasan atas serangan Iran pada 1 Oktober terhadap Israel.

Dengan faktor-faktor ini, harga minyak diperkirakan akan terus bergerak fluktuatif, tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan produksi OPEC+.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...