Saham-saham Asia melemah dari level tertinggi dua setengah tahun pada hari Selasa, sementara dolar AS menguat setelah komentar dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang meredam harapan pemangkasan suku bunga yang besar. Ketegangan di Timur Tengah juga menahan sentimen risiko pasar.
Harga Minyak dan Emas Stabil Menunggu Data Tenaga Kerja AS
Harga minyak tetap stabil dan emas diperdagangkan sedikit di bawah rekor tertinggi yang disentuh pekan lalu. Investor tengah menunggu data ketenagakerjaan AS untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai laju pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Indeks saham terluas MSCI untuk kawasan Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,32% menjadi 618,87 pada hari Selasa, setelah mencapai level tertinggi dua setengah tahun di 627,66 pada hari Senin. Meski demikian, indeks ini telah naik 17% sepanjang tahun 2023.
Kinerja Pasar Saham Jepang dan Eropa
Nikkei Jepang naik hampir 2% didukung pelemahan yen, setelah mengalami penurunan 4,8% pada hari Senin. Penurunan sebelumnya terjadi di tengah kekhawatiran investor terkait terpilihnya Shigeru Ishiba, yang dianggap sebagai tokoh kebijakan moneter hawkish, sebagai perdana menteri baru Jepang.
Sementara itu, saham-saham Eropa diperkirakan akan dibuka lebih tinggi, dengan kontrak berjangka Eurostoxx 50 naik 0,25%, DAX Jerman naik 0,24%, dan FTSE Inggris naik 0,28%. Fokus utama di Eropa adalah data inflasi dari zona euro, yang dapat membuka jalan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk memangkas suku bunga pada akhir bulan ini.
Prospek Pemangkasan Suku Bunga ECB
Data inflasi di zona euro menjadi penting setelah Presiden ECB, Christine Lagarde, menyatakan pada hari Senin bahwa bank sentral semakin yakin inflasi akan turun ke target 2%. Hal ini menegaskan kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga di kebijakan berikutnya.
Pasar keuangan Tiongkok daratan akan ditutup sepanjang sisa pekan ini, sehingga reli tajam yang telah mendorong pasar Asia dalam beberapa hari terakhir sedikit mereda. Indeks Hang Seng Hong Kong juga ditutup pada hari Selasa.
Stimulus Ekonomi Dorong Saham Tiongkok
Serangkaian stimulus ekonomi telah menyebabkan lonjakan saham-saham Tiongkok, dengan indeks CSI300 naik 25% sejak awal pekan lalu. Investor global mulai kembali mempertimbangkan untuk memasang taruhan di Tiongkok, seiring tanda-tanda pemulihan.
Menurut Matt Simpson, analis pasar senior di City Index, "Perdagangan akan cukup bergejolak hingga data AS mulai mengalir." Ia juga mencatat bahwa volume perdagangan menipis karena pasar Tiongkok ditutup.
Ketegangan Geopolitik Meningkat di Timur Tengah
Investor juga memantau ketegangan geopolitik yang meningkat setelah invasi darat Israel ke Lebanon diperkirakan dimulai pada hari Selasa.
Fokus Pada Kecepatan Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Fokus investor saat ini berpusat pada kecepatan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, setelah bank sentral AS memulai siklus pelonggaran bulan lalu dengan pemangkasan sebesar 50 basis poin. Pada hari Senin, Powell mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan akan tetap pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah data terbaru meningkatkan keyakinan pada pertumbuhan ekonomi dan belanja konsumen.
Powell mengatakan, "Ini bukan komite yang merasa terburu-buru untuk memangkas suku bunga secara cepat." Pernyataan ini menyebabkan para pedagang mengurangi probabilitas pemangkasan 50 basis poin bulan depan menjadi 38%, dari 53% pada hari Jumat, menurut alat FedWatch CME.
Penguatan Dolar dan Pergerakan Mata Uang Lain
Ekspektasi yang bergeser terkait pemangkasan suku bunga memperkuat dolar AS, dengan indeks dolar naik tipis menjadi 100,77. Euro stabil di $1,1142, sementara yen turun hampir 0,5% menjadi 144,34 per dolar.
Menurut Kristina Clifton, ekonom di Commonwealth Bank of Australia, data lowongan pekerjaan untuk bulan Agustus dan survei manufaktur ISM untuk bulan September yang akan dirilis pada hari Selasa akan menjadi penting untuk ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar AS.
Kesimpulan
Pasar saham Asia melemah dan dolar menguat di tengah ekspektasi perubahan laju pemangkasan suku bunga The Fed. Investor menantikan data ekonomi AS yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang langkah kebijakan moneter berikutnya. Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter di Eropa juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan pasar global.

Komentar
Posting Komentar