Langsung ke konten utama

Euro Menguat di Tengah Kekacauan Politik Prancis, Yuan Tertekan ke Level Terendah 13 Bulan

 


Mata uang euro mencatat penguatan pada Selasa (3/12/2024) setelah sempat tertekan oleh ketidakstabilan politik di Prancis. Sementara itu, yuan China mencapai level terendah dalam 13 bulan akibat risiko tarif tambahan dari AS serta melemahnya ekonomi domestik China.


Penguatan Euro di Tengah Kekacauan Politik Prancis

Euro, yang menjadi mata uang G10 dengan performa terburuk sepanjang November, berusaha bangkit meskipun menghadapi tekanan signifikan. Pada perdagangan terakhir, euro berada di level $1,0487, setelah sebelumnya anjlok 0,7% pada Senin.

  • Krisis Politik di Prancis: Perdana Menteri Michel Barnier menghadapi ancaman mosi tidak percaya pada Rabu akibat penolakan keras terhadap anggaran pemerintah yang mencakup kenaikan pajak dan pemotongan anggaran besar-besaran. Langkah ini dirancang untuk memperbaiki kondisi keuangan negara yang genting, namun mendapat kritik tajam dari berbagai spektrum politik.
  • Volatilitas Pasar: Permintaan perlindungan melalui opsi volatilitas euro meningkat ke level tertinggi sejak Maret 2023. Faktor ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian politik di zona euro, yang diperparah oleh data ekonomi yang lemah dan tekanan dari penguatan dolar AS.

Yuan China Terpuruk Akibat Tarif dan Ekonomi Melemah

Di sisi lain, yuan China terus melemah, dengan pasangan USD/CNY mencatat kenaikan hingga menyentuh level tertinggi sejak 13 bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama:

  1. Risiko Tarif Baru dari AS: Presiden terpilih Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan bagi negara-negara anggota BRICS yang dianggap mencoba menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan global.
  2. Kondisi Ekonomi China yang Lesu: Melemahnya aktivitas ekonomi domestik, ditambah dengan hambatan ekspor akibat pembatasan teknologi AS, semakin menekan yuan.

Yen Jepang Masih Kuat, Tapi Sedikit Melemah

Setelah mencatat penguatan sekitar 4,5% dalam dua minggu terakhir, yen Jepang mengalami sedikit pelemahan terhadap dolar AS. Namun, yen tetap berada di dekat level tertinggi enam minggu.

  • Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Jepang: Para pelaku pasar semakin yakin bahwa Bank of Japan dapat meningkatkan suku bunga dalam waktu dekat, memberikan dorongan kuat pada yen.

Dolar AS Tetap Perkasa di Tengah Ketidakpastian Global

Meskipun biasanya melemah pada bulan Desember akibat kebutuhan perusahaan untuk membeli mata uang asing, dolar AS tetap kokoh. Faktor pendukungnya adalah ketidakpastian seputar pemerintahan baru Donald Trump dan kemungkinan langkah-langkah proteksionis lebih lanjut.

  • Strategi Tarif Trump: Trump diperkirakan tidak akan sengaja melemahkan dolar selama masa kepresidenannya. Sebaliknya, ia akan mengandalkan tarif untuk mengatasi defisit perdagangan barang AS yang besar.
  • Proyeksi Euro ke Paritas: Menurut Rabobank, euro dapat mencapai paritas terhadap dolar pada pertengahan tahun depan, bertepatan dengan kemungkinan pemberlakuan tarif baru oleh AS.

Prospek Mata Uang Global

Euro tetap menghadapi tantangan besar dari kekacauan politik di zona euro dan data ekonomi yang mengecewakan. Sementara itu, yuan China terus berada di bawah tekanan, mencerminkan dampak buruk dari ketegangan perdagangan dengan AS dan pelemahan ekonomi domestik.

Dolar AS diproyeksikan tetap menjadi aset aman di tengah ketidakpastian global, terutama dengan potensi kebijakan proteksionis lebih lanjut dari pemerintahan baru Trump. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi internasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...