Sebagian besar mata uang Asia bergerak tipis pada perdagangan hari Senin, sementara dolar AS stabil setelah mengalami penurunan tajam dari level tertingginya dalam dua tahun. Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memberikan secercah harapan bahwa suku bunga mungkin akan tetap turun pada 2025.
Mata uang Asia masih dalam tahap pemulihan setelah mengalami tekanan besar terhadap dolar minggu lalu. Namun, data inflasi yang lebih lemah pada hari Jumat membantu memangkas sebagian kerugian ini. Meskipun begitu, ketidakpastian terkait suku bunga AS dan kebijakan di bawah pemerintahan Presiden terpilih Donald Trump terus membayangi prospek pasar regional.
Dolar Tertekan oleh Data PCE yang Lebih Lemah
Indeks dolar dan kontrak berjangka dolar AS stabil pada Senin setelah mencatat penurunan signifikan pada Jumat. Mata uang ini tergelincir dari puncak dua tahunnya setelah data indeks harga PCE, yang merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve, menunjukkan hasil lebih rendah dari perkiraan.
Meski demikian, inflasi tetap berada di atas target tahunan Fed sebesar 2%, sehingga menambah ketidakpastian terhadap jalur suku bunga di masa mendatang. The Fed pekan lalu memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi mengindikasikan perlambatan laju pemangkasan suku bunga tahun depan, mengutip kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi dan ketahanan pasar tenaga kerja.
Saat ini, pasar memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada 2025, meskipun prospek kebijakan moneter masih belum pasti. Di sisi lain, pasar mendapat sedikit kelegaan setelah pemerintah AS berhasil menghindari penutupan pemerintah dengan meloloskan anggaran darurat.
Tekanan pada Mata Uang Asia Karena Ketidakpastian Suku Bunga
Walaupun beberapa mata uang Asia mencatat kenaikan pada hari Jumat, sebagian besar masih diperdagangkan lebih rendah sepanjang Desember, tertekan oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga.
- Yen Jepang (USD/JPY) naik 0,1% menjadi 156,59 yen, setelah sempat menyentuh 158 yen minggu lalu. Bank of Japan memberikan sinyal dovish dengan mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tidak akan dilakukan dalam waktu dekat, meskipun inflasi baru-baru ini menunjukkan peningkatan. Kenaikan suku bunga BOJ diperkirakan tidak akan terjadi hingga Maret 2025.
- Yuan Tiongkok (USD/CNY) naik 0,1%, menyentuh level tertinggi satu tahun. Kekhawatiran atas prospek ekonomi China tetap tinggi, meskipun Beijing diperkirakan akan meningkatkan belanja fiskal tahun depan untuk mendukung ekonomi. Namun, kondisi moneter yang lebih longgar diperkirakan akan melemahkan yuan.
- Dolar Singapura (USD/SGD) diperdagangkan mendatar menjelang rilis data inflasi di hari yang sama, sementara won Korea Selatan (USD/KRW) naik 0,3%.
- Dolar Australia (AUD/USD) naik tipis setelah mencapai level terendah dua tahun minggu lalu, sementara rupee India (USD/INR) stabil setelah menyentuh rekor tertinggi lebih dari 85 rupee minggu lalu.
Tekanan pada mata uang Asia mencerminkan ketidakpastian global, terutama terkait jalur kebijakan suku bunga AS dan perkembangan ekonomi regional. Meskipun data inflasi AS yang lebih lunak memberikan sedikit dorongan bagi beberapa mata uang, prospek pasar tetap terpengaruh oleh ketegangan ekonomi dan kebijakan moneter yang belum pasti. Pelaku pasar akan terus mencermati data ekonomi utama dan kebijakan bank sentral untuk mencari arah lebih lanjut.

Komentar
Posting Komentar