Langsung ke konten utama

Mata Uang Asia Tertekan oleh Penguatan Dolar dan Kurangnya Stimulus dari Tiongkok

 


Sebagian besar mata uang Asia menunjukkan pelemahan pada Jumat, didorong oleh penguatan dolar AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan depan. Selain itu, hasil Konferensi Pekerjaan Ekonomi Pusat (CEWC) di Tiongkok yang tidak memberikan langkah stimulus signifikan menambah tekanan pada yuan.

Kehati-hatian Investor Menjelang Keputusan The Fed

Para pelaku pasar berhati-hati menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu depan, di mana pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin telah banyak diperkirakan. Namun, kekhawatiran mengenai kebijakan suku bunga jangka panjang membuat antusiasme pasar terkendala, sehingga mendukung penguatan dolar AS.

Indeks Dolar AS tercatat naik 0,2%, sementara kontrak berjangka Indeks Dolar AS menguat 0,1% dalam perdagangan Asia pada Jumat.

Yuan Melemah Setelah Harapan Stimulus Tidak Terpenuhi

Pasangan USD/CNY di pasar domestik Tiongkok menguat 0,2%, mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sementara pasangan offshore USD/CNH naik 0,1%.

Hasil CEWC yang berlangsung selama dua hari meninggalkan kekecewaan di pasar karena tidak ada kebijakan stimulus besar yang dapat mendongkrak permintaan domestik secara langsung. Meski Tiongkok berjanji untuk meningkatkan defisit anggaran, menerbitkan lebih banyak utang, dan melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi, kebijakan ini dinilai belum cukup memberikan dampak cepat untuk melawan tekanan deflasi.

Yuan telah mengalami tekanan terus-menerus selama beberapa bulan terakhir, dan tren pelemahan mingguan diperkirakan akan terus berlanjut seiring dampak tarif AS yang diusulkan oleh pemerintahan baru Donald Trump.

Menurut analis ING, "Perkembangan tarif akan menjadi katalis untuk potensi depresiasi lebih lanjut, meski kemungkinan pengurangan ketegangan perdagangan dapat mendukung pemulihan yuan dalam jangka pendek."

Kinerja Mingguan Dolar Terbaik dalam Sebulan

Dolar AS diperkirakan mencatatkan pekan terbaik dalam lebih dari sebulan, meskipun pasar telah memperhitungkan langkah pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve pekan depan. Data inflasi konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan November meningkatkan ekspektasi pemotongan suku bunga yang lebih lambat pada 2025.

Baht Thailand mencatat pelemahan terbesar di kawasan, dengan pasangan USD/THB melonjak 0,8%. Rupiah Indonesia melalui pasangan USD/IDR naik 0,3%, mengikuti tren serupa.

Won Korea Selatan (USD/KRW) sedikit menguat 0,2%, di tengah perhatian pasar terhadap pemungutan suara parlemen untuk memakzulkan Presiden Yoon Suk Yeol.

Sementara itu, yen Jepang (USD/JPY) naik 0,3% setelah laporan media menyebutkan bahwa Bank of Japan kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah minggu depan, melawan ekspektasi sebelumnya yang memproyeksikan kenaikan suku bunga.

Di kawasan lain, dolar Singapura (USD/SGD) sedikit menguat, sedangkan dolar Australia (AUD/USD) tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Rupee India (USD/INR) tetap stabil, berada di dekat level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Kamis.

Kesimpulan

Pergerakan mata uang Asia pada pekan ini mencerminkan tekanan yang diakibatkan oleh penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Federal Reserve. Kurangnya langkah stimulus agresif dari Tiongkok juga turut membebani sentimen pasar, terutama terhadap yuan. Dalam beberapa hari mendatang, perhatian investor akan terfokus pada hasil pertemuan Federal Reserve dan Bank of Japan, yang dapat memberikan arahan baru bagi pasar mata uang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...