Langsung ke konten utama

Trump Pertimbangkan Tarif 10% untuk China Mulai 1 Februari

 


Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mendiskusikan penerapan tarif 10% terhadap China, yang bisa diberlakukan secepatnya pada 1 Februari.

“Kami sedang membahas tarif sebesar 10% untuk China, berdasarkan fakta bahwa mereka mengirimkan fentanyl ke Meksiko dan Kanada,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa malam.

Fentanyl, opioid sintetis yang sangat adiktif, telah menyebabkan puluhan ribu kematian akibat overdosis setiap tahunnya di Amerika Serikat. Upaya untuk mengurangi pasokan ilegal obat ini, yang sebagian besar bahan bakunya diproduksi di China dan Meksiko, menjadi salah satu bidang kerja sama antara Washington dan Beijing.

Trump menyebut bahwa dirinya telah berbicara melalui telepon dengan Presiden China Xi Jinping terkait fentanyl dan perdagangan. Pernyataan resmi dari pihak China menyebutkan bahwa Xi menyerukan kerja sama dan menekankan hubungan ekonomi antara kedua negara sebagai hubungan yang saling menguntungkan.

Namun, di forum ekonomi global di Davos, Swiss, Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang mengatakan bahwa "tidak ada pemenang dalam perang dagang." Ia menyerukan upaya internasional untuk mendukung "globalisasi ekonomi" dan distribusi yang lebih adil.

Sementara itu, yuan China offshore sempat menguat sebelum kembali melemah ke posisi 7,2796 terhadap dolar AS. Media keuangan dan milik negara di China sebagian besar tidak membahas rencana tarif tersebut, lebih menyoroti peringatan Trump terkait tarif untuk Uni Eropa.

Dampak Tarif terhadap Perdagangan AS-China

Amerika Serikat adalah mitra dagang terbesar China dalam basis negara tunggal. Pada tahun 2024, ekspor China ke AS tumbuh sebesar 4,9%, sementara impor dari AS turun 0,1% dalam nilai dolar, menurut data resmi yang diakses melalui Wind Information.

Surplus perdagangan China dengan AS pada 2024 mencapai $361 juta, lebih tinggi dibandingkan $316,9 juta pada 2020, tahun penuh terakhir masa jabatan pertama Trump. Pada saat itu, Gedung Putih memberlakukan tarif pada barang-barang China untuk meningkatkan impor barang AS dan mengatasi masalah lama yang dihadapi bisnis AS di China. Beijing merespons dengan memberlakukan tarif balasan.

Menurut laporan Peterson Institute for International Economics yang dirilis pada 17 Januari, jika tarif tambahan 10% diberlakukan oleh AS dan China merespons dengan langkah serupa, PDB AS akan berkurang $55 miliar dalam empat tahun masa jabatan kedua Trump, sedangkan PDB China akan berkurang $128 miliar.

Rencana Tarif untuk Meksiko dan Kanada

Selain China, Trump juga mengungkapkan rencana tarif “sekitar 25%” terhadap Meksiko dan Kanada. Ia menyebutkan bahwa tarif ini bisa diberlakukan mulai Februari, seraya menuding kedua negara tersebut "mengizinkan sejumlah besar orang" melintasi perbatasan secara ilegal.

Ancaman tarif yang agresif ini mencerminkan pendekatan Trump dalam kampanyenya pada tahun 2024, ketika ia berjanji untuk memberlakukan tarif hingga 60% pada barang-barang China. Meskipun kebijakan tarif ini menuai kritik, Trump tetap mendorong langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari agendanya untuk memperkuat ekonomi domestik AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...