Langsung ke konten utama

Hang Seng Menguat 7,0% dalam Kinerja Mingguan

 


Indeks Hang Seng melonjak 806 poin atau 3,7% pada hari Jumat, ditutup di level 22.620, yang merupakan posisi tertinggi dalam lebih dari empat bulan. Kenaikan ini juga membalikkan sedikit penurunan yang terjadi pada sesi sebelumnya. Penguatan yang solid terjadi di berbagai sektor, terutama di sektor teknologi yang naik 5,6% setelah meningkatnya kepercayaan terhadap sektor AI China berkat popularitas DeepSeek.

Secara mingguan, Hang Seng mencatat kenaikan 7,0%, menandai reli selama lima minggu berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh janji terbaru dari Bank Rakyat China (PBoC) yang menyatakan akan menyesuaikan kebijakan moneter guna mendukung perekonomian. Bank sentral juga berkomitmen untuk menjaga likuiditas yang cukup dan menyelaraskan pertumbuhan suplai uang dengan target ekonomi serta inflasi.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping dijadwalkan memimpin simposium pekan depan untuk mendorong sentimen sektor swasta. Acara ini akan dihadiri oleh para pemimpin bisnis utama, termasuk salah satu pendiri Alibaba, Jack Ma. Di tingkat lokal, Hong Kong juga berencana melonggarkan aturan IPO bagi perusahaan asal China daratan.

Beberapa saham yang mengalami lonjakan signifikan termasuk BYD Co., yang naik 7,3% setelah muncul laporan mengenai hak penambangannya di Lithium Valley, Brasil. Saham lain yang turut menguat adalah Tencent Holdings (6,8%), Xiaomi Corp. (6,7%), Meituan (6,1%), dan Trip.com (4,2%).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...