Harga perak (XAG/USD) terus menguat untuk sesi ketiga berturut-turut, diperdagangkan di sekitar $32,30 per troy ounce pada perdagangan sesi Eropa hari Rabu. Logam mulia seperti perak mengalami kenaikan karena meningkatnya sentimen risk-off di tengah ketidakpastian perdagangan dan ekonomi global.
Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali memanas setelah Beijing merespons tarif baru AS sebesar 10% yang mulai berlaku pada hari Selasa. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif 15% terhadap impor batu bara dan gas alam cair (LNG) dari AS, serta tambahan tarif 10% pada minyak mentah, peralatan pertanian, dan beberapa jenis kendaraan.
Namun, para pelaku pasar tetap optimis bahwa AS dan Tiongkok dapat mencapai kesepakatan perdagangan, sebagaimana yang telah dilakukan dengan Meksiko dan Kanada. Presiden AS Donald Trump menyatakan pada hari Senin bahwa ia berharap dapat berbicara dengan Tiongkok dalam waktu dekat. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, tarif yang dikenakan akan "sangat, sangat besar." Hingga saat ini, belum ada perkembangan lebih lanjut terkait negosiasi tersebut.
Sebelumnya, Trump mengumumkan penundaan sementara tarif terhadap Meksiko dan Kanada setelah para pemimpin kedua negara sepakat mengerahkan 10.000 tentara di perbatasan AS untuk memerangi perdagangan narkoba. Tarif yang awalnya dijadwalkan sebesar 25% terhadap barang-barang Meksiko dan Kanada telah ditangguhkan setidaknya selama 30 hari.
Penguatan harga perak juga didukung oleh pelemahan Dolar AS (USD), yang saat ini mengalami koreksi teknis ke bawah. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai USD terhadap enam mata uang utama lainnya, masih dalam tekanan turun selama tiga hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar level 107,70 pada saat artikel ini ditulis. Sementara itu, para pedagang tengah menanti rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada hari Jumat, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed).
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, perak mendapatkan keuntungan dari sikap dovish bank sentral global. Bank of Canada (BoC) telah menghentikan kebijakan pengetatan kuantitatifnya dan bergabung dengan Riksbank Swedia dalam menurunkan suku bunga. Pekan lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga Deposit Facility Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,75%, sementara Bank Sentral India (RBI) dan Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) mengindikasikan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Selain itu, pasar juga memperkirakan bahwa Federal Reserve AS (Fed) akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.

Komentar
Posting Komentar