Langsung ke konten utama

Saham Jepang Menguat di Tengah Optimisme Terhadap Pengecualian Tarif AS

 


Saham Jepang menguat pada Rabu, dengan investor bertaruh bahwa Washington akan mengecualikan Tokyo dari tarif baru AS setelah Menteri Perdagangan Jepang, Yoji Muto, secara resmi mengajukan permintaan tersebut.

Indeks Nikkei 225 naik 0,45%, atau 175,20 poin, dan ditutup pada level 38.976,37. Penguatan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan dagang yang lebih menguntungkan bagi Jepang di tengah kebijakan proteksionisme Amerika Serikat.

Sementara itu, yen melemah hingga 0,8% ke level 153,68 per dolar AS, menuju tren pelemahan terpanjangnya dalam lebih dari sebulan. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa Jepang dapat terdampak kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, yen sempat menguat minggu lalu akibat spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank of Japan (BOJ) serta meningkatnya permintaan aset safe-haven.

Dari sisi korporasi, unit ritel Aeon Co. (TYO:8267), Aeon Retail, mencatat kenaikan penjualan sebesar 1,8% di semua toko pada Januari, sementara penjualan di toko yang sama naik 2%. Lonjakan ini didorong oleh promosi Tahun Baru serta meningkatnya permintaan produk kesehatan akibat wabah flu, menandai pertumbuhan bisnis farmasi Aeon selama 35 bulan berturut-turut.

Trial Holdings (TYO:141A) melaporkan peningkatan penjualan sebesar 3,6%, dengan lalu lintas pelanggan naik 2,5% dan pengeluaran per kunjungan meningkat 1,1%. Penjualan pada awal Januari turut mendorong kenaikan pendapatan toko yang sebanding sebesar 12,2% dan total penjualan sebesar 22,3%.

Sementara itu, Morinaga & Co. (TYO:2201) mengalami penurunan laba sembilan bulan sebesar 2,7% menjadi 13,6 miliar yen, meskipun pendapatannya naik 7,8% menjadi 176,58 miliar yen. Laba per saham tercatat sebesar 152,94 yen.

Optimisme investor terhadap kemungkinan pengecualian tarif AS serta kinerja positif beberapa perusahaan besar terus memberikan dorongan bagi pasar saham Jepang, meskipun yen yang melemah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...