Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali melemah untuk hari kelima berturut-turut pada Senin (14/4), tertekan oleh ketidakpastian kebijakan tarif yang terus berlanjut di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Meskipun sempat ada penangguhan tarif atas produk teknologi tertentu, pelaku pasar tetap skeptis terhadap arah kebijakan yang inkonsisten, apalagi setelah Trump sendiri menepis anggapan bahwa produk teknologi telah benar-benar dikecualikan.
Bloomberg Dollar Spot Index turun hingga 0,4% dalam sesi perdagangan hari itu, melanjutkan penurunan mingguan sebesar 2,4% yang terjadi pekan lalu. Secara keseluruhan, indeks ini telah melemah hampir 6% sepanjang tahun berjalan, menyentuh posisi terendah sejak Oktober tahun lalu. Sentimen negatif terhadap dolar kian menguat seiring meningkatnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS dan tekanan berkelanjutan dari ketegangan perdagangan dengan Tiongkok.
Trump dalam pernyataannya melalui media sosial menegaskan bahwa semua produk tetap berada dalam radar tarif, termasuk ponsel dan komputer. “TIDAK ADA yang 'lepas dari jeratan’,” tulisnya. Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa langkah proteksionis akan tetap menjadi bagian utama strategi dagang AS. Kondisi ini memperbesar ketidakpastian dan menurunkan daya tarik dolar sebagai aset safe haven.
Menurut Dane Cekov, ahli strategi makro dan mata uang senior di Sparebank 1 Markets AS, penguatan dolar yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika perang dagang diselesaikan dengan cepat dan damai. Jika tidak, dampak dari kebijakan tarif akan muncul secara nyata dalam data ekonomi seperti konsumsi, inflasi, dan pasar tenaga kerja, yang pada akhirnya terus melemahkan greenback.
Data dari Commodity Futures Trading Commission menunjukkan bahwa spekulan meningkatkan posisi jual terhadap dolar dalam sepekan hingga 8 April, mempertegas pandangan bearish di pasar. Sementara itu, indikator volatilitas dolar tetap mendekati level tertingginya dalam dua tahun, mencerminkan ketidakpastian tinggi di kalangan investor.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menolak anggapan bahwa bank sentral akan bertindak untuk mendukung pasar keuangan, berbanding terbalik dengan komentar dari Presiden Fed Boston, Susan Collins. Kashkari menegaskan bahwa The Fed tidak memiliki kapasitas untuk mengontrol dinamika yang terjadi saat ini, termasuk akibat kebijakan perdagangan pemerintah.
Di Wall Street, sejumlah analis dari bank-bank besar turut mengeluarkan pandangan negatif terhadap dolar. JPMorgan Chase & Co. melihat bahwa potensi resesi di AS masih tinggi, yang menjadikan dolar rentan terhadap tekanan lebih lanjut, terutama terhadap yen dan euro. Sementara Mizuho Bank Ltd. memperkirakan penurunan tambahan hingga 5% terhadap sekeranjang mata uang sebelum potensi rebound, mengacu pada pola pergerakan serupa pada periode 2017–2018 dan masa pandemi.
Analis Goldman Sachs Group Inc. menyebutkan bahwa desain dan implementasi tarif justru menjadi faktor negatif terhadap dolar, karena telah mengikis kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis. Mereka menambahkan bahwa jika tarif berdampak pada margin keuntungan korporasi dan pendapatan riil konsumen AS, kekuatan fundamental dolar dapat terkikis secara signifikan.
Permintaan lindung nilai terhadap potensi penurunan dolar juga melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Indeks risiko tiga bulan — yang mengukur perbedaan antara opsi beli dan jual dolar terhadap 12 mata uang utama — turun ke titik terendah sejak masa puncak pandemi global pada Maret 2020, menurut data Bloomberg.
Secara keseluruhan, pelemahan dolar mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap arah kebijakan ekonomi AS yang tidak pasti. Tanpa kepastian dalam negosiasi dagang dan sinyal dukungan yang jelas dari bank sentral, dolar kemungkinan akan terus berada dalam tekanan hingga ada perbaikan konkret dalam data ekonomi maupun hubungan dagang internasional.

Komentar
Posting Komentar