Langsung ke konten utama

Pound Menguat Setelah Data GDP Inggris Melebihi Perkiraan

 


Pound Inggris (GBP) menarik minat beli terhadap mata uang lain pada jam perdagangan Eropa pada Kamis (15/5) setelah data Produk Domestik Bruto (GDP) Inggris dirilis. Kantor Statistik Nasional (ONS) melaporkan bahwa ekonomi tumbuh dengan laju yang kuat sebesar 0,7% pada periode Januari-Maret, dibandingkan dengan perkiraan sebesar 0,6%. Pada kuartal terakhir 2024, ekonomi Inggris hampir tidak berkembang.

Secara tahunan, pertumbuhan GDP awal Inggris mencapai 1,3% pada kuartal pertama, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebesar 1,2% tetapi lebih lambat dari rilis sebelumnya sebesar 1,5%. Pada bulan Maret, ekonomi Inggris tumbuh sebesar 0,2%, sementara ekonom memperkirakan kinerja stagnan setelah pertumbuhan 0,5% pada Februari.

Pengaruh Terhadap Kebijakan Suku Bunga BoE

Pertumbuhan GDP Inggris yang lebih tinggi mencerminkan kondisi ekonomi yang kuat, yang mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Bank of England (BoE) dan berdampak positif pada pound. Anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE, Catherine Mann, menyatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa kebijakan moneter sebaiknya dipertahankan pada tingkat saat ini mengingat risiko inflasi yang meningkat dan kondisi pasar tenaga kerja yang solid.

Mann juga menegaskan bahwa pasar tenaga kerja tetap kuat meskipun data ketenagakerjaan untuk tiga bulan hingga Maret menunjukkan pertumbuhan pekerjaan yang lebih lambat. "Pengamatan pertama adalah bahwa pasar tenaga kerja lebih tangguh. Ya, kami memiliki beberapa data yang menunjukkan perlambatan, tetapi itu bukanlah penyesuaian yang tidak linear," kata Mann.

Data Produksi Manufaktur dan Industri Inggris

Di sisi lain, data Produksi Manufaktur dan Produksi Industri Inggris pada bulan Maret lebih lemah dari perkiraan. Data bulanan menunjukkan produksi manufaktur turun 0,8% dan produksi industri turun 0,7%, sementara keduanya diperkirakan turun 0,5%.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...