Langsung ke konten utama

Dolar AS Melemah Tajam, Trump Pertimbangkan Umumkan Ketua The Fed Lebih Awal

 


Indeks Dolar Bloomberg tergelincir ke level terendah dalam tiga tahun terakhir setelah laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mempercepat pengumuman pengganti Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Langkah ini dipersepsikan pasar sebagai sinyal kuat bahwa pemangkasan suku bunga acuan bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Tekanan Politik ke The Fed Melemahkan Dolar Secara Global

Indeks Bloomberg Dollar Spot turun hingga 0,4%, memperpanjang penurunan ke hari keempat berturut-turut. Prospek diumumkannya calon Ketua The Fed baru sebelum Oktober memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral AS bisa melonggarkan kebijakan moneternya lebih awal, menciptakan tekanan lanjutan terhadap mata uang AS.

Pelemahan ini diperkuat oleh pernyataan Trump yang mengatakan bahwa dirinya telah memiliki tiga hingga empat kandidat sebagai pengganti Jerome Powell, yang masa jabatannya baru akan berakhir tahun depan. Ketidakpastian arah kebijakan moneter yang muncul akibat potensi "lame duck"-nya Powell dalam waktu dekat memberi ruang bagi pasar untuk berspekulasi terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

David Forrester, analis senior di Credit Agricole CIB Singapura, menjelaskan, “Risiko meningkatnya status Powell sebagai ketua FOMC yang kehilangan pengaruh lebih awal dari yang diperkirakan memberi tekanan tambahan pada dolar.”

Mata Uang Global Menguat: Euro dan Poundsterling Menjadi Sorotan

Kondisi ini dimanfaatkan oleh mata uang-mata uang utama untuk menguat terhadap dolar. Euro menembus batas psikologis 1.1700 seiring aktivasi opsi besar dalam pasangan EUR/USD. Euro naik 0,2% menjadi 1,1682, menandakan penguatan yang stabil di tengah ketidakpastian moneter AS.

Sementara itu, pasangan USD/JPY turun 0,4% ke 144,63, memperkuat posisi Yen Jepang sebagai mata uang safe haven yang diminati saat ketidakpastian meningkat. Poundsterling juga menunjukkan penguatan signifikan, dengan GBP/USD naik 0,3% ke 1,3702, didorong oleh prospek kestabilan ekonomi Inggris dan performa sektor jasa yang solid.

USD/CHF juga ikut melemah, turun 0,2% ke 0,8033, mempertegas tren global terhadap penghindaran risiko terhadap dolar AS.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Pasar Taruh Taruhan pada Pemangkasan Suku Bunga

Pasar obligasi turut mencerminkan perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi 10 tahun AS turun dua basis poin ke 4,27% di tengah meningkatnya taruhan bahwa pemangkasan suku bunga akan terjadi lebih cepat dari yang sebelumnya diantisipasi. Penurunan imbal hasil ini mendukung pergeseran dana ke aset yang dianggap lebih aman dan memiliki potensi apresiasi yang lebih tinggi, seperti emas dan mata uang non-USD.

Kesimpulan: Ketidakpastian Politik dan Kebijakan Dorong Dolar ke Jurang Tekanan

Penguatan sentimen negatif terhadap dolar AS mencerminkan kepekaan pasar terhadap gangguan politik yang memengaruhi independensi bank sentral. Potensi penggantian dini Ketua The Fed oleh Presiden Trump, di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi yang mulai mereda, memunculkan kemungkinan pelonggaran moneter lebih awal.

Kondisi ini menjadi titik balik penting dalam dinamika pasar mata uang global, dengan pelaku pasar kini fokus pada sinyal-sinyal lanjutan dari Gedung Putih maupun dari pernyataan The Fed sendiri. Hingga ada kejelasan, dolar kemungkinan tetap berada dalam tren pelemahan, sementara mata uang utama lainnya terus mencuri panggung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...