Langsung ke konten utama

Penjualan Ritel Inggris Anjlok 2,7%, Sinyal Buruk bagi Ekonomi Kuartal Kedua

 


Penjualan ritel di Inggris mengalami penurunan paling tajam sejak 2023, menjadi pertanda mengkhawatirkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi kemungkinan mulai goyah pada kuartal kedua 2025. Data dari Office for National Statistics (ONS) yang dirilis Jumat menunjukkan volume barang yang terjual—baik secara daring maupun di toko fisik—merosot 2,7% pada Mei, jauh di bawah ekspektasi penurunan 0,5% oleh para ekonom.

Setelah menunjukkan performa kuat pada awal tahun berkat cuaca cerah dan kenaikan upah riil, sektor ritel Inggris kini mengalami pembalikan tajam. Penurunan pada Mei menghapus seluruh kenaikan sejak awal tahun, menciptakan kekhawatiran bahwa konsumsi rumah tangga—salah satu penopang utama pertumbuhan—kembali melemah.

Kinerja sektor ritel yang buruk ini akan menambah tekanan terhadap ekonomi Inggris yang sempat mencatat pertumbuhan mengesankan sebesar 0,7% pada kuartal pertama. Namun, pada April lalu ekonomi mengalami kontraksi, dan proyeksi untuk kuartal kedua menunjukkan perlambatan signifikan. Dengan demikian, rilis data ini memperkuat kekhawatiran bahwa pemulihan pasca-pandemi belum sepenuhnya stabil.

Pound sempat memangkas kenaikannya usai data dirilis, namun masih diperdagangkan naik tipis 0,1% di level \$1.3484 terhadap dolar AS. Melemahnya sentimen belanja masyarakat berpotensi membebani kebijakan fiskal pemerintah Partai Buruh, yang tengah berupaya meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan komitmen pengeluarannya.

Rencana anggaran Menteri Keuangan Rachel Reeves yang dijadwalkan pada November bisa menghadapi tekanan lebih lanjut. Jika pertumbuhan melambat dan pendapatan pajak tidak mencukupi, pemerintah mungkin terpaksa menaikkan pajak untuk menutup celah fiskal yang kian membesar.

ONS menjelaskan bahwa penurunan penjualan terutama disebabkan oleh anjloknya penjualan makanan sebesar 5%, disusul oleh pelemahan di seluruh sektor ritel. Toko perlengkapan rumah tangga mencatat penurunan sebesar 2,5%, sementara sektor pakaian dan alas kaki menyusut 1,8%.

Menurut Rajeev Shaunak, Kepala Divisi Konsumen di firma akuntansi MHA, “Momentum melambat karena tekanan inflasi yang persisten, gangguan perdagangan internasional, serta sikap hati-hati konsumen.”

Selama beberapa tahun terakhir, kehati-hatian konsumen telah menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan ekonomi Inggris. Harapan sempat muncul bahwa rumah tangga mulai lebih leluasa dalam pengeluaran, namun ternyata lonjakan konsumsi sebelumnya kemungkinan besar hanya terjadi akibat percepatan belanja, yang berujung pada pelemahan tajam di bulan berikutnya.

Meskipun demikian, ada tanda-tanda pemulihan kepercayaan rumah tangga. Indeks kepercayaan konsumen GfK untuk Juni menunjukkan peningkatan ke level tertinggi sepanjang tahun, setelah menyentuh titik terendah baru pada April akibat kenaikan tagihan dan ketidakpastian global yang dipicu oleh peningkatan tarif oleh Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah mitra dagang utama.

Pelonggaran suku bunga secara bertahap oleh Bank of England, tingkat pengangguran yang masih rendah secara historis, serta kenaikan upah yang melebihi inflasi turut menopang stabilitas finansial rumah tangga. Namun, Neil Bellamy dari GfK mengingatkan bahwa kepercayaan konsumen tetap “rapuh,” terutama di tengah risiko inflasi lanjutan dan potensi kenaikan harga BBM akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dengan latar belakang seperti ini, Inggris berada dalam posisi yang rentan: perlambatan konsumsi di saat pemerintah ingin mendorong pertumbuhan, tekanan fiskal yang meningkat, dan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Data penjualan ritel ini menjadi peringatan dini bahwa fondasi pemulihan ekonomi Inggris masih jauh dari kokoh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...