Langsung ke konten utama

EUR/USD Bertahan di Dekat Level Tertinggi Multi-Tahun Menjelang Rilis Data NFP AS

 


Pasangan mata uang EUR/USD nyaris stagnan pada perdagangan Kamis (4/7), diperdagangkan tepat di bawah level 1.1800 saat artikel ini ditulis. Meskipun belum kembali menyentuh level tertinggi multi-tahun yang dicapai awal pekan ini, posisi Euro terhadap Dolar AS masih tergolong kuat. Namun, selera risiko investor mulai memudar, seiring pergeseran fokus pasar dari optimisme terkait kesepakatan dagang AS-Vietnam ke kewaspadaan menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, Nonfarm Payrolls (NFP).

Data Jasa Zona Euro Pulih, Tapi Dampaknya Terbatas pada Euro

Di kawasan Euro, data aktivitas sektor jasa untuk bulan Juni direvisi naik menjadi 50,5 dari estimasi awal 50,0. Angka ini menunjukkan bahwa sektor jasa kembali tumbuh setelah mencatat kontraksi ringan di bulan Mei. Meskipun secara fundamental ini adalah sinyal positif bagi ekonomi zona euro, dampaknya terhadap pergerakan Euro sejauh ini relatif terbatas. Investor tampaknya lebih fokus pada faktor eksternal, terutama dinamika ekonomi dan politik di Amerika Serikat, yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap nilai tukar EUR/USD dalam jangka pendek.

Kesepakatan Dagang AS-Vietnam Menambah Ketidakpastian Pasar

Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan Vietnam, yang memicu harapan akan adanya lebih banyak perjanjian sebelum tenggat 9 Juli. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul kekhawatiran dari negara-negara Asia lainnya yang mengeluhkan kompleksitas negosiasi tarif dengan AS. Situasi ini membuat Dolar AS sempat melemah terhadap mata uang utama lainnya, sebelum akhirnya sedikit menguat kembali karena sikap hati-hati investor menjelang rilis data ekonomi penting.

Serangan Politik Trump terhadap Ketua The Fed Mengguncang Sentimen Dolar

Faktor tambahan yang menekan Dolar AS adalah serangan politik terbaru Presiden Trump terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Trump secara terbuka meminta Powell untuk "mengundurkan diri segera," sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengancam independensi bank sentral AS. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran serius di pasar global, karena dapat merusak kredibilitas Federal Reserve dan posisi Dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Ketegangan politik ini menjadi salah satu faktor utama yang menahan penguatan Dolar lebih lanjut.

NFP Jadi Penentu Arah Selanjutnya, Risiko Berat ke Dolar AS

Sorotan utama pasar hari ini tertuju pada data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis lebih awal dari biasanya karena libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat. Laporan ketenagakerjaan ini mendapat perhatian ekstra setelah laporan ADP Employment pada Rabu menunjukkan penurunan tak terduga sebesar 33.000 pekerjaan di sektor swasta. Jika data NFP nanti juga menunjukkan hasil yang mengecewakan, maka ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan semakin menguat. Kondisi ini akan memberikan tekanan tambahan pada Dolar AS dan berpotensi mendorong EUR/USD menembus resistensi psikologis 1.1800.

Kesimpulan: EUR/USD Masih Kuat, Tapi Semua Mata Tertuju ke NFP

Pasangan EUR/USD tetap berada di zona kuat, tetapi keberlanjutan tren bullish sangat bergantung pada hasil NFP malam ini. Dengan risiko yang cenderung condong ke sisi negatif untuk Dolar AS, Euro memiliki peluang untuk memperpanjang penguatannya. Namun, volatilitas tinggi sangat mungkin terjadi dalam beberapa jam ke depan, menjadikan kehati-hatian sebagai kunci bagi trader yang berfokus pada pasangan mata uang utama ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...