Langsung ke konten utama

Harga Minyak Stabil Setelah Penurunan, Fokus Pasar Beralih ke Perkembangan Perundingan Dagang AS

 


Harga minyak mentah dunia menunjukkan stabilisasi pada Rabu, setelah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Investor kini mengalihkan perhatian mereka pada perkembangan pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan mitra dagang utamanya, yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan global dan mendukung permintaan energi.

Minyak mentah Brent diperdagangkan di bawah $69 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level $65,18 per barel untuk pengiriman September. Pergerakan harga yang relatif datar ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan pasokan global.

Presiden AS Donald Trump baru saja mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan Jepang dan Filipina, yang mendorong reli di pasar saham Asia serta kontrak berjangka saham AS. Optimisme pasar meningkat karena kesepakatan tersebut dianggap sebagai langkah strategis menjelang tenggat waktu 1 Agustus untuk penerapan tarif timbal balik AS.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menambahkan bahwa ia akan mengadakan pertemuan dengan pejabat Tiongkok di Stockholm pekan depan guna membahas kemungkinan perpanjangan gencatan senjata tarif. Ia juga mengisyaratkan bahwa agenda pembicaraan dapat mencakup isu yang lebih luas, termasuk pembelian minyak oleh Beijing dari Rusia dan Iran yang saat ini dikenakan sanksi.

Harga minyak mentah telah diperdagangkan dalam kisaran yang sempit sepanjang bulan ini, setelah periode volatilitas tinggi pada bulan Juni akibat konflik geopolitik antara Israel dan Iran. Meski demikian, Brent masih mencatat penurunan sekitar 8% sepanjang tahun 2025, dipicu oleh kekhawatiran bahwa perang tarif AS dapat membebani konsumsi global, tepat saat OPEC+ mulai mengembalikan produksi secara bertahap ke pasar.

Harry Tchilinguirian, Kepala Riset di Onyx Capital Group, menyatakan, "Kita tengah berlomba menuju tenggat waktu tarif timbal balik AS pada 1 Agustus. Kesepakatan dengan Jepang telah selesai, kini pertanyaannya adalah apakah mereka mampu merampungkan kesepakatan cepat dengan Uni Eropa."

Di sisi lain, laporan dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS mengalami penurunan tipis pekan lalu, sementara stok distilat justru meningkat. Data resmi dari Administrasi Informasi Energi (EIA) dijadwalkan akan dirilis Rabu malam waktu setempat, yang kemungkinan besar akan memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.

Ketidakpastian seputar permintaan dan pasokan global masih membayangi harga minyak. Meski terdapat sinyal positif dari diplomasi perdagangan, investor tetap mencermati dinamika pasar energi secara menyeluruh, termasuk keputusan kebijakan OPEC+, fluktuasi dolar AS, serta perkembangan geopolitik di kawasan-kawasan sensitif.

Dengan pasar minyak yang masih rentan terhadap gejolak eksternal, arah harga ke depan sangat tergantung pada hasil perundingan dagang utama, data inventaris minyak AS, dan kejelasan arah kebijakan moneter global. Untuk saat ini, stabilitas harga mencerminkan keseimbangan antara harapan perbaikan permintaan dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan atau pelambatan ekonomi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...