Harga minyak mentah global kembali melemah pada Senin (11 Agustus), memperpanjang penurunan lebih dari 4% yang terjadi pekan lalu. Tekanan jual meningkat seiring fokus pelaku pasar tertuju pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus di Alaska. Pertemuan tersebut bertujuan untuk merundingkan akhir konflik Ukraina, yang berpotensi berdampak signifikan terhadap kebijakan sanksi dan aliran ekspor minyak Rusia ke pasar global.
Harga minyak Brent tercatat turun 0,68% ke level US$66,14 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,77% menjadi US$63,39 per barel. Para analis memperingatkan bahwa jika kesepakatan damai gagal tercapai, sanksi terhadap Rusia bisa semakin diperketat, termasuk potensi penerapan sanksi sekunder kepada negara-negara yang masih membeli minyak Rusia. UBS bahkan memangkas proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$62 per barel dari sebelumnya US$68, dengan alasan pasokan global yang meningkat, termasuk dari negara-negara yang sedang dikenai sanksi.
Tekanan tambahan datang dari data ekonomi China yang menunjukkan penurunan Producer Price Index (PPI) Juli lebih besar dari perkiraan, menandakan melemahnya permintaan industri. Dari sisi pasokan, ExxonMobil mengumumkan dimulainya produksi minyak di fasilitas baru di Guyana lebih cepat dari jadwal, menambah pasokan global di tengah pasar yang sudah oversupply.
Selain itu, India diperkirakan akan membeli hingga 15 juta barel minyak WTI untuk pengiriman Agustus dan September. Langkah ini mencerminkan pergeseran pola pembelian global akibat ketegangan geopolitik dan tarif baru yang diberlakukan Trump, yang juga diprediksi dapat mendorong inflasi. Kombinasi faktor geopolitik, fundamental pasokan, dan pelemahan permintaan industri global membuat harga minyak berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek, dengan volatilitas tinggi menjelang hasil pertemuan AS–Rusia.

Komentar
Posting Komentar