Harga minyak melemah dalam perdagangan Asia pada Kamis, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi tujuh pekan. Investor melakukan aksi ambil untung di tengah ketidakpastian mengenai prospek permintaan dan pasokan global. Minyak Brent turun 0,4% menjadi $69,05 per barel, sementara WTI melemah 0,4% ke $64,72 per barel.
Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak sempat melonjak 2,5% setelah data menunjukkan penurunan tak terduga pada persediaan minyak AS, disertai kekhawatiran bahwa serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia dapat mengganggu pasokan global. Namun, sejumlah analis menilai kenaikan tajam tersebut lebih dipicu sentimen jangka pendek ketimbang faktor fundamental yang kuat.
Menurut Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova, harga minyak mulai menghadapi batas atas akibat melemahnya permintaan musiman serta potensi peningkatan pasokan dari OPEC+ pada kuartal keempat. Kembalinya ekspor minyak dari Kurdistan Irak juga memperkuat narasi kemungkinan terjadinya kelebihan pasokan, yang kemudian memicu koreksi harga.
Meski begitu, sebagian analis menekankan bahwa tekanan dari sisi fundamental sejauh ini masih terbatas. Laporan JP Morgan mencatat bahwa permintaan bensin AS mulai melambat, sejalan dengan tren perjalanan yang lebih moderat. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin berhati-hati, sehingga harga minyak tetap rentan terhadap koreksi dalam jangka pendek.
Poin Penting:
-
Brent $69,05 dan WTI $64,72, masing-masing turun 0,4% pada perdagangan Asia.
-
Lonjakan 2,5% pada Rabu dipicu penurunan stok minyak AS dan risiko pasokan Rusia.
-
Tekanan korektif berasal dari lemahnya permintaan musiman dan kembalinya ekspor Kurdistan.
-
Fundamental masih netral, tetapi permintaan bensin AS yang melemah membuat pasar berhati-hati.

Komentar
Posting Komentar