Langsung ke konten utama

Poundsterling dan Yen Tertekan Akibat Kekhawatiran Fiskal serta Gejolak Politik


Poundsterling Inggris dan yen Jepang mengalami tekanan pada Rabu, setelah aksi jual besar-besaran dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terkait kondisi keuangan pemerintah global dan ketidakpastian politik di Jepang. Pergerakan ini menyoroti rapuhnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas fiskal di sejumlah negara besar.

Pada sesi sebelumnya, para pelaku pasar ramai-ramai melepas obligasi pemerintah jangka panjang di Eropa dan Amerika Serikat, seiring fokus kembali pada meningkatnya level utang di berbagai ekonomi utama. Kekhawatiran ini membangkitkan kembali rasa waswas bahwa pemerintah di seluruh dunia mulai kehilangan kendali atas defisit fiskal mereka.

Dampak paling nyata terlihat pada pasar obligasi pemerintah Inggris (gilt), di mana biaya pinjaman 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 1998. Kondisi ini membuat poundsterling semakin rentan, jatuh lebih dari 1% pada Selasa dan terakhir diperdagangkan melemah 0,12% di level USD 1,3378. Ray Attrill, Head of FX Research di National Australia Bank, menekankan bahwa masalah ini bukan hanya milik Inggris, melainkan juga Eropa secara keseluruhan. Ia menambahkan, pasar Inggris semakin sensitif karena masih menyimpan ingatan pahit dari krisis fiskal era Liz Truss, sementara anggaran musim gugur yang akan segera diumumkan turut menambah kecemasan investor.

Di Jepang, yen juga melemah 0,2% menjadi 148,62 per dolar, melanjutkan penurunan 0,8% di sesi sebelumnya. Tekanan ini terjadi setelah Hiroshi Moriyama, Sekretaris Jenderal partai berkuasa sekaligus orang dekat Perdana Menteri Shigeru Ishiba, mengumumkan niatnya untuk mundur dari jabatan. Keputusan ini dapat memengaruhi stabilitas politik Ishiba, yang sudah menghadapi tekanan untuk mundur usai kekalahan dalam pemilu. Kit Juckes, Chief Global FX Strategist di Societe Generale, menilai ketidakpastian politik serta kemungkinan pengunduran diri Ishiba dalam waktu dekat memberikan dampak negatif langsung terhadap yen.

Sementara itu, Sanae Takaichi, salah satu kandidat kuat pengganti Ishiba, dikenal memiliki preferensi pada suku bunga domestik yang rendah, yang berpotensi memperlemah yen lebih lanjut jika terpilih.

Penurunan poundsterling dan yen secara tidak langsung mengangkat dolar AS. Indeks dolar terakhir berada di level 98,44, setelah menguat 0,66% pada Selasa. Euro juga ikut melemah 0,1% ke USD 1,1630, memperpanjang penurunan 0,6% di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun 0,1% ke USD 0,6514, sementara dolar Selandia Baru terkoreksi 0,14% ke USD 0,5857.

Di luar isu fiskal dan politik, investor kini mengalihkan perhatian pada rangkaian rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini, dengan sorotan utama pada laporan non-farm payrolls Jumat mendatang. Data tersebut diyakini akan menjadi kunci bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, apakah pemangkasan akan terjadi bulan ini atau tertunda.

Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun, yang mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek, sedikit turun ke 3,6495% pada Rabu. Namun, imbal hasil obligasi 30 tahun masih mendekati level 5%, sejalan dengan lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang secara global.

Secara keseluruhan, kombinasi kekhawatiran fiskal global, ketidakpastian politik Jepang, serta antisipasi kebijakan The Fed terus menciptakan volatilitas di pasar valuta asing, membuat poundsterling dan yen tetap berada di bawah tekanan berat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...