Pasar saham Asia diperkirakan akan memulai perdagangan dengan pergerakan terbatas setelah sesi Wall Street yang kurang bergairah. Investor memilih bersikap hati-hati menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu, yang menjadi fokus utama arah pasar global.
Kontrak berjangka indeks ekuitas mengindikasikan adanya pelemahan tipis di Sydney dan Tokyo, sementara Hong Kong diperkirakan akan dibuka menguat. Hal ini mengikuti pergerakan di AS, di mana S&P 500 melemah 0,1% dan Nasdaq 100 mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut. Di sisi komoditas, emas sempat menembus $3.700 per ons, didorong oleh pelemahan dolar AS yang jatuh ke level terendah dalam lebih dari sepuluh minggu.
Fokus tambahan di Asia tertuju pada lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun. Ketidakpastian politik serta risiko fiskal yang masih membayangi terus menekan obligasi jangka panjang, sehingga hasil lelang ini dipandang sebagai barometer penting sentimen investor terhadap stabilitas keuangan Jepang.
Sementara itu, data penjualan ritel AS yang solid pada Selasa tidak banyak menggerakkan pasar. Investor tetap menanti arah kebijakan moneter The Fed, khususnya terkait jalur suku bunga yang akan memengaruhi prospek pasar dalam beberapa bulan ke depan. Beberapa pelaku pasar obligasi bahkan meningkatkan posisi opsi mereka, dengan keyakinan bahwa bank sentral AS berpotensi melakukan pemangkasan suku bunga setidaknya setengah poin.
Menurut Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management, konsumen Amerika saat ini masih menunjukkan optimisme yang kuat. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi perekonomian, namun sekaligus memperkuat perdebatan mengenai seberapa agresif The Fed perlu menurunkan suku bunga untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas inflasi.

Komentar
Posting Komentar