
Harga minyak Brent kembali bergerak melemah setelah sebelumnya ditutup turun sekitar 1,5% ke kisaran $61 per barel, tertekan oleh sentimen terkait perkembangan pembicaraan damai Rusia–Ukraina serta kekhawatiran atas melemahnya permintaan bahan bakar di Amerika Serikat. Para pelaku pasar menilai bahwa apabila tercapai perdamaian, sebagian pasokan minyak Rusia yang saat ini tertahan oleh sanksi berpotensi kembali mengalir ke pasar global. Ekspektasi peningkatan pasokan ini menambah tekanan pada harga, terutama ketika pasar masih bergulat dengan proyeksi surplus dalam beberapa tahun ke depan.
Dari sisi data, laporan EIA menunjukkan lonjakan signifikan pada stok bensin dan distillat di AS, sinyal bahwa konsumsi bahan bakar sedang melemah. Kondisi ini menekan margin kilang dan memunculkan kekhawatiran bahwa permintaan energi di musim mendatang tidak akan sekuat perkiraan sebelumnya. Meskipun The Fed kembali memangkas suku bunga—kebijakan yang secara teori dapat mendukung permintaan minyak melalui pertumbuhan ekonomi—dampaknya tertahan oleh risiko oversupply yang masih membayangi pasar global.
Secara fundamental, OPEC+ mempertahankan pandangan bahwa permintaan minyak akan tetap stabil hingga 2026, sementara laporan IEA dan EIA sama-sama menegaskan bahwa pasar masih berpotensi mengalami surplus pasokan dalam beberapa tahun ke depan, meskipun lebih kecil dari perkiraan awal. Kombinasi dinamika ini membuat harga Brent cenderung bergerak dalam rentang sempit: mendapatkan dukungan dari risiko geopolitik seperti penyitaan kapal tanker oleh AS dan serangan terhadap infrastruktur Rusia, tetapi terus dibatasi oleh kekhawatiran atas kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan bahan bakar.
Komentar
Posting Komentar