Langsung ke konten utama

Perak Terkoreksi dari Rekor Tertinggi: Sinyal Overheating Mulai Terlihat

Harga perak mundur dari rekor tertingginya setelah reli enam hari memicu kekhawatiran pasar bahwa momentum kenaikan sudah memasuki area jenuh beli. Tekanan teknikal ini juga menyeret harga emas yang ikut melemah tipis. Perak sempat turun hingga 2,4%, berada sekitar dua dolar di bawah level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada sesi sebelumnya, menyusul aksi ambil untung dan penyesuaian posisi pelaku pasar.

Reli tajam sebelumnya didorong oleh spekulasi terkait ketatnya pasokan global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed—kondisi yang ideal bagi logam mulia tanpa imbal hasil. Namun, indikator teknikal Relative Strength Index (RSI) 14 hari telah melampaui level 70, memberikan sinyal jelas bahwa momentum kenaikan bergerak terlalu cepat dan terlalu jauh. Daniel Ghali, Senior Commodity Strategist di TD Securities, menilai bahwa reli ini telah melampaui batas rasional, terutama karena ekspektasi permintaan justru melemah di hampir semua kategori sehingga permintaan investasi menjadi satu-satunya penggerak utama. Minimnya aktivitas perdagangan fisik di pasar OTC London memperkuat indikasi tersebut.

Indikator lain yang memperingatkan potensi pembalikan adalah gold-silver ratio, yang turun ke level terendah dalam lebih dari satu tahun. Rasio yang turun drastis menunjukkan bahwa harga perak sudah berlari jauh mendahului emas—situasi yang sering dilihat trader sebagai sinyal ekstrem dan titik balik potensial. Meski demikian, sentimen bullish jangka menengah masih bertahan karena pasar mengantisipasi kelanjutan ketatnya pasokan. Setelah arus perak dalam jumlah besar masuk ke London pada Oktober untuk meredakan tekanan pasokan, hub perdagangan lain ikut mengalami pengetatan. Persediaan di gudang yang terafiliasi dengan Shanghai Futures Exchange bahkan mencapai titik terendah dalam satu dekade.

Ekspektasi kuat terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan minggu depan turut menopang harga logam mulia. Pasar kini hampir sepenuhnya memproyeksikan pemotongan seperempat poin pada pertemuan penutup tahun. Pada pukul 10:26 waktu Singapura, perak turun 1,8% ke US$56,9579 per ounce, sementara emas melemah 0,3% ke US$4.218,35 per ounce. Indeks Bloomberg Dollar Spot sedikit menguat, dan platinum tergelincir tipis. Secara keseluruhan, koreksi ini mencerminkan jeda wajar di tengah reli besar yang dipicu kombinasi spekulasi, pengetatan pasokan, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...