
Indeks Dolar AS atau DXY kembali melemah dan bergerak di sekitar level 97,00 pada sesi Asia, mencetak posisi terendah sejak 18 September 2025. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kegelisahan pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait isu independensi Federal Reserve. Sentimen negatif menguat setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan segera mengumumkan kandidat ketua The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell ketika masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran akan potensi intervensi politik dalam arah kebijakan suku bunga dan pengelolaan inflasi, sesuatu yang sangat sensitif bagi kredibilitas dolar sebagai mata uang cadangan global.
Tekanan terhadap dolar semakin dalam dengan munculnya risiko penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat. Perdebatan sengit di Kongres terkait anggaran, termasuk pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri, menempatkan pemerintah AS di ambang shutdown jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat akhir pekan ini. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar karena meningkatnya risiko volatilitas pasar, ketidakpastian fiskal, serta potensi gangguan terhadap aktivitas ekonomi dan kepercayaan investor.
Kombinasi antara drama politik dan ketidakpastian kebijakan moneter membuat dolar kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven jangka pendek. Ketika pasar melihat kemungkinan The Fed berada di bawah tekanan politik, kepercayaan terhadap konsistensi kebijakan anti-inflasi ikut tergerus. Hal ini membuka ruang bagi mata uang lain dan aset alternatif untuk mengambil alih peran dolar sebagai tempat berlindung nilai, setidaknya sementara waktu.
Fokus pasar kini tertuju pada dua data penting yang dirilis hari ini, yaitu laporan ketenagakerjaan sektor swasta ADP dan indeks Consumer Confidence dari Conference Board. Data-data ini akan memberikan gambaran awal mengenai kesehatan ekonomi AS di tengah tekanan politik dan fiskal. Setelah itu, perhatian sepenuhnya beralih ke pertemuan Federal Reserve, yang secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%.
Arah dolar selanjutnya akan sangat ditentukan oleh nada konferensi pers The Fed. Jika bank sentral menunjukkan sikap hawkish dan menegaskan komitmen kuat terhadap stabilitas harga serta independensinya, pelemahan dolar berpotensi tertahan. Namun, jika The Fed terdengar lebih dovish atau terkesan terpengaruh oleh tekanan politik, maka dolar AS bisa menghadapi tekanan lanjutan, memperpanjang tren pelemahan yang saat ini sudah mulai mengkhawatirkan pasar global.
Sumber : www.newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar