Langsung ke konten utama

Pertumbuhan Ekonomi China Melambat ke 4,5% di Kuartal IV, Konsumsi Lesu Jadi Beban Utama

Pertumbuhan ekonomi China melambat ke level terlemahnya dalam hampir tiga tahun pada kuartal keempat, menyoroti tekanan yang semakin besar dari lemahnya permintaan domestik dan krisis properti yang berkepanjangan. Produk domestik bruto China hanya tumbuh 4,5% pada periode Oktober hingga Desember, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,8% pada kuartal sebelumnya. Angka ini menjadi yang paling lemah sejak kuartal pertama 2023, mencerminkan tantangan struktural yang masih membayangi pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Meski demikian, secara tahunan ekonomi China masih mampu mencapai pertumbuhan 5%, sesuai dengan target resmi pemerintah Beijing. Pencapaian ini diraih di tengah meningkatnya gesekan perdagangan dengan Amerika Serikat dan pelemahan sektor properti yang terus menekan investasi. Namun, capaian tahunan tersebut tidak sepenuhnya menutupi perlambatan momentum ekonomi yang semakin terlihat jelas menjelang akhir tahun.

Data ekonomi terbaru menunjukkan konsumsi domestik menjadi titik lemah utama. Penjualan ritel pada Desember hanya tumbuh 0,9% secara tahunan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,2% dan melambat dari 1,3% pada bulan sebelumnya. Ini merupakan pertumbuhan terlemah sejak Desember 2022, menandakan bahwa kepercayaan konsumen masih rapuh dan pengeluaran rumah tangga belum pulih secara berkelanjutan. Lemahnya konsumsi menjadi sinyal bahwa stimulus sebelumnya belum cukup kuat untuk mendorong permintaan dalam negeri.

Di sisi lain, sektor manufaktur memberikan sedikit penopang bagi perekonomian. Produksi industri tumbuh 5,2% pada Desember, melampaui perkiraan analis sebesar 5% dan meningkat dari 4,8% pada bulan sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan bahwa aktivitas pabrik masih relatif solid, didukung oleh permintaan ekspor tertentu dan kebijakan industri yang lebih terarah. Namun, penguatan manufaktur belum mampu sepenuhnya mengimbangi pelemahan konsumsi dan investasi.

Tekanan paling berat masih berasal dari investasi, khususnya di sektor properti. Investasi aset tetap, yang mencakup real estat, tercatat turun 3,8% sepanjang tahun, lebih dalam dari perkiraan penurunan 3%. Investasi pengembangan properti anjlok 17,2% pada 2025, memperdalam kontraksi dari penurunan 10,6% pada tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa krisis properti China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dan terus menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi.

Perlambatan pertumbuhan kuartal keempat ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi China membutuhkan dorongan kebijakan yang lebih kuat dan terfokus, terutama untuk menghidupkan kembali konsumsi domestik dan menstabilkan sektor properti. Tanpa perbaikan signifikan di dua area tersebut, risiko perlambatan lebih lanjut tetap tinggi, meskipun target pertumbuhan tahunan masih dapat dipertahankan melalui dukungan kebijakan jangka pendek.

Sumber : www.newsmaker.id 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...