
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada hari ke-13 konflik semakin memperjelas bahwa pasar energi global belum akan melihat solusi dalam waktu dekat. Pernyataan tegas dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menempatkan isu nuklir Iran di atas stabilitas harga minyak, serta sikap pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei yang ingin mempertahankan penutupan Strait of Hormuz secara efektif, telah mengubah persepsi pasar. Jika sebelumnya gangguan pasokan dianggap sementara, kini pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa risiko tersebut bisa berlangsung lebih lama dan menjadi faktor struktural dalam harga energi global.
Pada tahap ini, premi risiko minyak tidak lagi didorong terutama oleh sentimen pasar, melainkan oleh keterbatasan kapasitas transportasi fisik. Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu distribusi jutaan barel minyak per hari. Lembaga energi global International Energy Agency bahkan menyebut gangguan ini sebagai pukulan terbesar terhadap produksi minyak global yang pernah tercatat. Karena gangguan terjadi pada pusat logistik distribusi energi, respons harga cenderung sangat volatil. Pasar tidak hanya menghitung produksi minyak nominal, tetapi juga menilai seberapa besar pasokan yang benar-benar dapat mencapai pasar global.
Lonjakan harga minyak mencerminkan perubahan tersebut. Pada perdagangan terbaru, minyak mentah Brent crude melonjak lebih dari 9% dan ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022. Sementara itu, West Texas Intermediate mencatat penutupan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Pergerakan ini menunjukkan bahwa berbagai upaya kebijakan administratif belum mampu menghentikan tren kenaikan harga yang didorong oleh risiko pasokan.
Pemerintah Amerika Serikat mencoba meredam dampak krisis energi melalui sejumlah langkah kebijakan jangka pendek. Di antaranya adalah rencana pemberian pengecualian sementara terhadap aturan maritim domestik yang mengharuskan penggunaan kapal berbendera Amerika untuk pengiriman antar pelabuhan domestik. Selain itu, pemerintah juga memberikan izin tambahan bagi pembeli untuk menerima kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut. Meski demikian, dampak kebijakan tersebut dinilai terbatas karena desain kebijakan yang relatif sempit serta fakta bahwa hambatan utama saat ini bukan produksi, melainkan keamanan jalur pelayaran internasional.
Di sisi geopolitik, dinamika konflik juga berubah dari konsep “eskalasi terukur” menuju potensi pembukaan front konflik baru. Mojtaba Khamenei bahkan mengisyaratkan kemungkinan membuka front tambahan apabila serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut. Sementara itu, Israel melanjutkan gelombang serangan berskala besar, sedangkan Iran meningkatkan serangan terhadap target di kawasan seperti Dubai serta terhadap aset pelayaran komersial.
Laporan dari UK Maritime Trade Operations menunjukkan bahwa dalam 24 jam terakhir telah terjadi serangan terhadap tiga kapal komersial di wilayah Teluk Arab. Peristiwa ini menegaskan bahwa risiko gangguan tidak lagi terbatas pada Selat Hormuz saja, tetapi berpotensi meluas ke rute pelayaran lain serta berbagai aset logistik di kawasan tersebut.
Biaya dan durasi konflik kini menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas pasar global. Pejabat Amerika Serikat menyebut bahwa enam hari pertama operasi militer telah menelan biaya lebih dari US$11,3 miliar. Selain itu, sekitar 6.000 target dilaporkan telah diserang sejak operasi dimulai. Angka-angka tersebut meningkatkan ketidakpastian mengenai daya tahan operasional masing-masing pihak, peluang kompromi politik, serta seberapa cepat konflik dapat diredakan tanpa mengorbankan posisi tawar mereka. Ketidakpastian ini membuat pasar sulit menentukan nilai akhir dari dampak ekonomi konflik tersebut.
Risiko tambahan juga datang dari dimensi keamanan maritim. Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan bahwa Iran kemungkinan mulai menanam ranjau laut di Selat Hormuz, meskipun klaim ini dibantah oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran. Jika pasar semakin percaya bahwa ancaman ranjau tersebut nyata, biaya asuransi kapal, pengalihan rute pelayaran, serta penundaan pengiriman dapat menjadi mekanisme transmisi yang mempertahankan harga energi tetap tinggi bahkan sebelum ada kerusakan fisik pada fasilitas produksi minyak.
Implikasi pasar lintas aset dari situasi ini relatif jelas. Harga minyak kemungkinan akan tetap didukung oleh premi risiko pasokan selama Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif dan gangguan pelayaran terus berlanjut. Sementara itu, emas menghadapi dinamika tarik-menarik antara dua kekuatan utama. Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi, yang dapat membatasi ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga dan pada akhirnya menahan kenaikan harga emas.
Dalam kondisi volatilitas global seperti ini, dolar Amerika Serikat sering kali mendapatkan dukungan karena investor mencari likuiditas dan keamanan. Namun arah akhirnya akan sangat bergantung pada faktor mana yang lebih dominan dalam persepsi pasar: sentimen risk-off yang mendorong permintaan terhadap dolar, atau dampak negatif harga energi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi global yang dapat menekan mata uang tersebut dalam jangka panjang.
Komentar
Posting Komentar