
Harga minyak dunia melanjutkan reli untuk hari kelima berturut-turut, mencatatkan tren kenaikan terpanjang sejak Januari, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar menilai bahwa belum adanya kemajuan signifikan dalam perundingan berpotensi menunda pemulihan arus pasokan energi dari kawasan Teluk Persia, sehingga memperkuat premi risiko yang melekat pada harga minyak global.
Minyak mentah Brent berhasil menembus level psikologis $100 per barel dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 17%, sementara WTI juga diperdagangkan mendekati level yang sama. Lonjakan ini mencerminkan reaksi pasar terhadap meningkatnya hambatan dalam jalur diplomasi, di mana pernyataan dan kebijakan terbaru dari pemerintah Amerika Serikat dinilai memperumit proses mediasi yang melibatkan pihak ketiga. Faktor ini memperkuat persepsi bahwa ketegangan tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari terus mengguncang pasar energi global, terutama karena hampir tertutupnya jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute distribusi minyak dan gas paling vital di dunia. Gangguan signifikan terhadap arus pengiriman dari produsen utama di kawasan tersebut telah menciptakan kekhawatiran serius terhadap keseimbangan pasokan global, mendorong pelaku pasar untuk menambahkan premi risiko dalam penilaian harga minyak.
Pandangan analis juga memperkuat narasi bahwa dampak konflik ini tidak bersifat sementara. Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies menilai bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kemungkinan dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Penyesuaian harga di pasar berjangka diperkirakan akan semakin mencerminkan realitas penyusutan pasokan fisik, bukan sekadar ekspektasi jangka pendek, sehingga volatilitas berpotensi bertahan tinggi.
Kenaikan harga juga dipicu oleh langkah militer yang semakin agresif, termasuk perintah kepada angkatan laut Amerika Serikat untuk menindak kapal yang diduga menanam ranjau di jalur pelayaran tersebut. Selain itu, intersepsi terhadap kapal tanker yang membawa minyak Iran semakin memperketat blokade, memperparah keterbatasan distribusi energi global. Situasi ini menciptakan tekanan tambahan pada pasar yang sudah sensitif terhadap isu pasokan.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa arus pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas, dengan hanya sedikit pergerakan kapal yang terkait dengan Iran. Upaya untuk menghidupkan kembali negosiasi juga masih menemui jalan buntu, tidak hanya terkait isu nuklir Iran tetapi juga dinamika konflik regional lainnya. Meskipun terdapat perpanjangan gencatan senjata di beberapa wilayah, ketegangan secara keseluruhan tetap tinggi dan menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga energi.
Pada perdagangan terkini, kontrak Brent untuk pengiriman Juni naik 1,1% ke level $106,20 per barel, sementara WTI Juni menguat 0,96% ke $96,77 per barel. Kinerja ini menegaskan bahwa pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan persepsi risiko, dengan harga minyak berpotensi tetap tinggi selama ketidakpastian di kawasan Teluk Persia belum mereda.
Komentar
Posting Komentar