Langsung ke konten utama

Harga Emas Tetap Kuat di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran dan Pelemahan Dolar AS

Harga emas dunia bertahan kuat di atas level US$4.690 per ounce setelah mencatat lonjakan harian terbesar sejak akhir Maret. Penguatan logam mulia ini didorong oleh meredanya kekhawatiran inflasi menyusul penurunan harga minyak, di tengah meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir 10 minggu.

Spot gold diperdagangkan di sekitar US$4.695 per ounce setelah melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya. Stabilitas harga emas saat ini menunjukkan bahwa investor masih mempertahankan eksposur terhadap aset safe haven, meskipun sentimen risiko global mulai membaik. Penurunan harga energi turut menekan imbal hasil obligasi, sementara dolar AS melemah kembali ke level sebelum konflik pecah, menciptakan kombinasi faktor yang mendukung kenaikan emas.

Dari sisi geopolitik, Iran dilaporkan masih mengevaluasi proposal terbaru Amerika Serikat terkait penghentian konflik. Pada saat yang sama, China turut meningkatkan tekanan internasional agar perang segera diakhiri demi menjaga stabilitas ekonomi global dan kelancaran pasokan energi dunia. Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap mengakhiri kampanye militernya serta melonggarkan blokade Selat Hormuz apabila Iran menyetujui kesepakatan yang sedang dinegosiasikan.

Optimisme terhadap jalur diplomasi ini membantu memperbaiki sentimen pasar, namun sejumlah pelaku pasar mengingatkan bahwa situasi masih sangat rapuh. Analis TD Securities menilai bahwa headline terkait perdamaian memang mendorong reli di sektor logam mulia, tetapi substansi tuntutan kedua belah pihak dinilai belum mengalami perubahan signifikan dibanding proposal-proposal sebelumnya. Artinya, risiko perubahan arah pasar secara tiba-tiba masih sangat tinggi apabila negosiasi kembali menemui hambatan.

Di sisi kebijakan moneter, Austan Goolsbee kembali memberikan sinyal hati-hati terkait inflasi Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa inflasi belum kembali menuju target 2% dan justru meningkat sejak konflik dimulai. Pernyataan ini penting karena arah suku bunga tetap menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya tarik emas.

Sebagai aset non-yielding, emas biasanya mendapat tekanan ketika suku bunga tinggi karena investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih besar. Namun dalam kondisi saat ini, pelemahan dolar dan turunnya imbal hasil obligasi masih memberikan dukungan kuat terhadap harga emas, meskipun ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve belum sepenuhnya menguat.

Pada perdagangan pagi di Singapura, spot gold bergerak relatif stabil di sekitar US$4.692,98 per ounce. Sementara itu, perak melanjutkan kenaikan ke sekitar US$77,44 setelah melonjak lebih dari 6% sehari sebelumnya. Platinum bergerak stabil, sedangkan palladium mencatat kenaikan tipis. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Index nyaris tidak berubah setelah sebelumnya turun 0,6%, menandakan bahwa tekanan terhadap dolar mulai mereda namun belum sepenuhnya hilang.

Meski mengalami pemulihan dalam beberapa sesi terakhir, harga emas secara keseluruhan masih turun sekitar 11% sejak konflik pecah pada akhir Februari. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi ketidakpastian besar terkait arah geopolitik dan kebijakan moneter global.

Ke depan, pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran, arah harga energi, serta ekspektasi suku bunga Federal Reserve. Jika proses diplomasi terus menunjukkan kemajuan dan dolar tetap melemah, emas berpotensi mempertahankan momentum penguatannya. Namun, jika inflasi kembali meningkat atau ketegangan geopolitik muncul kembali, volatilitas di pasar logam mulia diperkirakan akan tetap tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Nikkei Terus Tertekan?

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,34% ke 48.538 pada Rabu, sementara Topix turun 0,17% ke 3.246. Ini menjadi penurunan empat hari berturut-turut bagi pasar saham Jepang, dengan tekanan utama datang dari sektor teknologi yang kembali dihukum pasar akibat kekhawatiran valuasi yang dianggap terlalu tinggi. Kewaspadaan investor semakin meningkat menjelang rilis laporan keuangan Nvidia, mengingat banyak perusahaan teknologi Jepang terintegrasi dalam rantai pasok global AI. Beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi beban bagi indeks, seperti Advantest (-0,6%), Lasertec (-2,2%), Disco Corp (-3,4%), Tokyo Electron (-2%), dan Hitachi (-1,5%). Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen sektor teknologi masih rapuh dan mudah tertekan oleh katalis negatif global. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi domestik ikut menekan pasar, memberi sinyal bahwa biaya pendanaan dapat meningkat bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ketegangan diplomatik dengan China turut memperburuk suasana, me...

BOJ Tahan Suku Bunga, Perbedaan Tajam Internal Perkuat Sinyal Normalisasi Kebijakan

Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan terbaru, namun keputusan kali ini membawa nuansa yang jauh lebih hawkish dibandingkan sebelumnya. Dari sembilan anggota dewan kebijakan, tiga di antaranya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1,0%. Perpecahan ini mencerminkan meningkatnya perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter Jepang, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa era kebijakan ultra-longgar mulai mendekati titik balik. Tekanan inflasi menjadi faktor utama di balik perubahan sikap tersebut. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memperkuat tekanan harga domestik, mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk mempercepat normalisasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap gelombang inflasi global, yang selama ini menjadi tantangan utama bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas harga. Revisi proyeksi inflasi inti juga me...

Mengapa Dolar AS Tiba-Tiba Menguat Lagi? Ini Faktor Utama Pendorongnya

Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat ke area 98 pada perdagangan Senin setelah sempat mengalami tekanan sepanjang pekan lalu. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, yang kembali mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik masih sulit tercapai setelah konflik berlangsung selama sekitar 10 minggu tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Sentimen pasar berubah lebih defensif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal perdamaian. Trump bahkan menyebut proposal tersebut sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima,” memperkuat pandangan bahwa negosiasi antara kedua negara kembali menemui jalan buntu. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa Iran sempat menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai bagian dari upaya negosiasi. Namun, Iran dilaporkan ...