
Harga minyak mengalami koreksi terbatas pada perdagangan Selasa (5 Mei), setelah lonjakan tajam di awal pekan. Brent bergerak di kisaran US$113 per barel setelah sempat melonjak 5,8% pada hari sebelumnya, sementara WTI bertahan di sekitar US$104 per barel. Meski mengalami pelemahan, harga tetap berada di level tinggi, mencerminkan kekhawatiran pasar yang belum mereda terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat mengklaim berhasil menggagalkan serangan Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS melintasi jalur strategis tersebut. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan bahwa terminal minyak di Fujairah menjadi sasaran serangan, yang semakin memperbesar risiko gangguan terhadap infrastruktur energi. Rangkaian insiden ini memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat minggu antara Washington dan Teheran.
Upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur pelayaran bagi kapal-kapal yang sempat terhambat justru memicu respons dari Iran, yang dilaporkan memperluas zona kontrolnya di sekitar Selat Hormuz. Sejumlah kapal dilaporkan memilih menjauh dari jalur utama dan berkumpul di dekat Dubai, mencerminkan tingginya persepsi risiko keamanan di kalangan operator pelayaran. Kondisi ini menegaskan bahwa ketidakpastian masih mendominasi aktivitas distribusi energi global.
Secara fundamental, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial dalam pasar minyak dunia. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama distribusi energi global, sehingga setiap gangguan berpotensi langsung memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan. Ancaman terhadap kelancaran pengiriman dapat memperketat pasokan dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Bahkan, analis memperingatkan bahwa harga dapat kembali melonjak jika konflik meningkat dan merusak lebih banyak fasilitas energi.
Di sisi lain, lonjakan harga energi mulai memicu kekhawatiran baru terkait inflasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun telah melampaui 5%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya. Tekanan serupa juga terlihat di kawasan Asia, termasuk Filipina, yang mengalami inflasi tinggi akibat ketergantungan besar terhadap impor minyak dari Timur Tengah.
Secara keseluruhan, koreksi harga minyak saat ini belum mencerminkan meredanya risiko. Harga Brent tetap ditopang oleh ketidakpastian geopolitik, gangguan di Selat Hormuz, serta ancaman terhadap fasilitas energi. Selama belum ada kepastian terkait keamanan jalur pelayaran tersebut, harga minyak berpotensi tetap tinggi dan sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Komentar
Posting Komentar